Takhrij Hadist

tahdits

METODE TAKHRIJ HADITS

 hmjtafsirhaditsuinbandung

4 tahun yang lalu

A. Metode Takhrij

Sebagaimana diketahui, aplikasi Ilmu Tarikh al-Ruwah dan Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil itu ada pada proses pentyakhrijan Hadits. Sementara itu, ada beberapa langkah yang mesti ditempuh dalam melakukan pentakhrijan Hadits. Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan dapat dipilih metode yang tepat dan mudah dalam mentahkrij Hadits yang dimaksud. Mahmud Thahhan (1991:35) dan ‘Abd al-Muhdi (1987:24) menyebutkan bahwa metode takhrij Hadits tidak lebih dari lima metode, yaitu: (1). Dengan cara mengetahui sahabat yang meriwayatkan Hadits tersebut. (2). Dengan cara mengeahui lafal pertama dari matan Hadits tersebut. (3). Dengan cara mengetahui lafal matan Hadits yang sedikit berlakunya. (4). Dengan cara mengetahui pokok bahasan Hadits yang dimaksud atau sebagaian saja, jika mengandung beberapa pokok bahasan. (5). Dengan meneliti keadaan Hadits tersebut secara terpadu, baik dalam segi Sanad maupun dalam segi Matan.

 

Metode Pertama

Dengan  cara mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan Hadits. Metode takhrij ini dapat diterapkan selama nama shahabat yang meriwayatkannya  terdapat dalam hadits yang hendak di-takhrij. Jika sebaliknya atau tidak ada, maka tidak mungkin dapat diketahui dan metode ini tidak dapat diterapkan. Untuk menerapkan metode takhrij, dapat melacak melalui kitab-kitab yang membahas tentang materi yang terkait. Yang pertama dapat dipakai tiga macam kitab sebagai berikut, yaitu: Kitab-kitab MusnadKitab-kitab Mu’jam, dan . Uraian masing-masing kitab tersebut. Sebagaimana pada keterangan berikut di bawah ini:

Musnad adalah kitab Hadits yang disusun berdasarkan nama-nama shahabat, atau kitab-kitab yang menghimpun Hadits-hadits shahabat. Musnad yang berhasil ditulis para ahli Hadits, jumlahnya cukup banyak. Menurut Al-Kattani (w. 466 H ) dalam Al-Risalah al-Mustatrafah bahwa kitab-kitab sanad tersebut, berjumlah 82 kitab, dan selain itu masih banyak lagi.

Nama-nama shahabat dalam kitab Musnad itu terkadang disusun berdasarkan urutan : (a). hurup hijaiyah; (b). yang terlebih dahulu masuk Islam; (c). kabilah (bangsa) atau negara, dan sebagainya. Nama-nama shahabat yang disusun  berdasarkan urutan huruf hijaiyah  itu relatif lebih mudah untuk mendapatkannya. Itulah pengertian dan sistematika kitab Musnad yang masyhur.

Menurut sebagaian ahli Hadits, Musnadadalah kitab Hadits yang disusun berdasarkan urutan bab-bab fikih atau berdasarkan urutan huruf  hijaiyah, tidak berdasarkan urutan nama shahabat, sebab pada dasarnya riwayat shahabat bernilai  musnad dan marfu’  (sampai kepada Rasulullah saw), seperti musnad  Baqi bin Makhlad al-Andalusi (276 H), yang disusun berdasarkan bab-bab fikih  (Thahhan, 1991: 40).

 

Kitab-kitab Musnad

Berikut ini nama-nama sebagian kitab Musnad, yaitu Musnad Ahmad bin Hanbal (w. 241 H); Musnad Abu Bakar Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi; Musnad Abu Dawud Sulaiman  bin Dawud al-Tayalisi (w. 240 H); Musnad Asad bin Musal al-Umawi (w. 212 H); Musnad Musaddad bin Musarhad Al-Asadi Al-Basri (w. 228 H); Musnad Nu’aim bin Hammad; Musnad Ubaidillah bin Musa al-Aisi; Musnad Abu Khaisamah Zuhair bin Harb; Musnad Abu Ya’la  Ahmad bin Ali al-musani Al-Mausili (w. 249 H); Musnad Aid bin Humaid (w. 249 H).

Dari beberapa Musnad di atas, hanya dua musnad yang cukup terkenal, yaitu Musnad Al-Humaidi dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Karena kedua kitab Musnadtersebut, yang telah dicetak dan masyhur  di kalangan masyarakat, sehingga mudah mendapatkannya.

 

Musnad Al-Humaidi

Berdasarkan informasi Mahmud al-Thahhan (1991:40),  Musnad ini ditulis Al-Hafizh Abu Bakar Abdullah bin al-Zubair al-Humaidi, guru al-Bukhari yang wafat pada tahun 219 H., dalam ukuran sedang dan terdiri atas sebelas bagian Hadits, namun berdasarkan naskah kitab telah dicetak, hanya terdiri atas sepuluh bagian Hadits. Hal ini karena ada perbedaan naskah aslinya dalam pembagian Hadits. Kitab Musnad ini memuat 1300 hadits sesuai dengan jumlah nomor urut dalam naskah yang telah dicetak, dan disusun berdasarkan urutan musnad shahabat.

Dalam  sistematika kitabnya, beliau terlebih dahulu menyebutkan  MusnadAbu Bakar As-Siddiq, Khulafaur al-Rasyidin, sesuai dengan  urutan sejarahnya. Musnad sepuluh shahabat yang telah dijanjikan  nabi masuk surga, kecuali Talhah bin Ubaidillah, karena al-Huamidi tidak pernah meriwayatkan Hadits melalui jalannya. Sedang terhadap susunan nama-nama shahabat lainnya tidak kami dapatkan cara yang beliau (al-Humaidi) gunakan. Tetapi yang jelas, beliau menyebutkan shahabat  yang lebih dahulu masuk Islam, Ummahat al-Mukminin (sahabat wanita) kemudian para rawi dari sahabat Anshar. Dan baru kemudian shahabat pada umumnya. Shahabat yang menjadi sandaran  Hadits dalam Musnad ini berjumlah 180 sahabat. Dan hanya satu Hadits yang diriwayatkan  al-Humaidi dengan jalan yang banyak (Thahhan, 1991:41)

Berdasarkan kitab ini, riwayat Hadits Taraktu Fi kum  berserta derivasi katanya tidak di temukan dalam kitab ini. Semua shahabat yang meriwayatkan Hadits ini riwayatnya tidak terdapat  dalam kitab ini. Dengan demikian, Musnad al-Humaidi ini tidak memberikan kontribusi dalam penelitian ini.

 

Musnad Ahmad bin Hanbal

Musnad ini telah dicetak menjadi enam jilid besar dan semua 40.000 Hadits, ditulis al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani (w. 241 H). pada tepi kitab ini, di tulis kitab Muntakhab Kanzul ‘Ummal Fi Sunanil al-Aqwali Wa al-Afali karya Ali bin Hisamuddin, yang terkenal dengan Al-Muttaqi.

Musnad ini disusun berdasarkan Musnad-musnad shahabat atau kitab yang meriwayatkan Hadits-hadits  setiap shahabat, tanpa memperhatikan pokok bahasan Hadits itu. Karena orang yang menghimpun   semua Hadits adalah shahabat  yang telah meriwayatkannya  dari Rasulullah saw. beliau tidak menyusun nama-nama  shahabat berdasarkan urutan huruf hijaiyah, karena beliau hanya memperhatikan  beberapa hal, antara lain; keutamaan, tempat tinggal, dan kabilah para sahabat dan sebagainya.

Terkadang memaparkan Hadits salah seorang shahabat  pada beberapa tempat. Karena itu, orang yang hendak mengetahui  salah satu Musnad shahabat harus meneliti  daftar isi dari semua juz kitab ini, sampai dapat mengetahui  tempatnya.

Menurut Thahhan (1991:40) kesulitan ini, dapat diatasi  penerbit Al-Maktab Al-Islami dan Dar al-Sadir di Bairut, ketika mencetak ulang naskah aslinya  dari percetakan Al-Maimuniyah di Kairo tahun 1389 H/1369 M. cetakan ulang tesebut, telah menyusun daftar isi nama-nama shahabat sesuai dengan urutan hurup hijaiyah. Ditambah nomor juz dan halamannya di depan setiap nama shahabat. Penerbit tersebut, menyebutkan bahwa Syekh Nasiruddin al-Albani mencatat daftar isi ini untuk keperluan pribadi, agar mudah menggunakan Musnad ini. Daftar isi ini, diletakkan  pada awal bagian juz pertama kitab Musnad ini.

Langkah pertama bagi orang yang men-takhrij Hadits yang telah diketahui nama shahabat yang meriwayatkannya adalah melihat daftar isi  yang diberi petunjuk,  guna mengetahui tempat Musnadshahabat itu secara mudah, baik dari Juz ataupun halamannya.

Kemudian melihat kembali musnad itu, hingga dapat menjelaskan keadaan suatu Hadits, jika telah diriwayatkan  al-Imam Ahmad ke dalam Musnadnya. Jika tidak, maka harus mencarinya pada sumber lain. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal ini memuat 904 Musnad shahabat yang di antaranya memuat jumlah Hadits yang besar, seperti musnad Abu Hurairah dan Musnad shahabat yang meriwayatkannya.

Mula-mula Imam Ahmad menyebutkan Musnad sepeluluh  shahabat yang dijamin oleh nabi saw, masuk surga, dengan mendahulukan Musnad  Khulafa al-Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), kemudian diikuti oleh sahabat-sahabat besar lainnya, seperti Ahl al-Bait Nabi, dan seterusnya.

Berdasarkan kitrab Musnad ini, ditemukan taraktu fi kum beserta derivasi katanya  pada sejumlah tempat sebagaimana berikut ini.

Musnad Abu Sa’id al-Khudri

Riwayat Abu Sa’id al-khudri dalam Musnad Ahmad b. Hanbal di temukan pada jilid  III, halaman 14, 17, 26, dan 43.

Musnad Zaid b. Arqam

Riwayat Abu Sa’id al-Khudri dalam Musnad Ahmad bin Hanbal ditemukan pada jilid IV, halaman 366 dan 371.

Musnad Zaid bin Tsabit

Riwayat Zaid bin Tsabit dalam Musnad Ahmad bin Hanbal ditemukan pada jilid V,. halaman 181-2 dan 188.

 

Kitab-kitab Mu’jam (Al-Ma’ajim)

Kata Al-Ma’ajim adalah bentuk jamak dari kata Al-Mu’jam, yang menurut istilah ahli Hadits adalah kitab-kitab Hadits yang disusun berdasarkan musnad shahabat, guru-gurunya, negara, atau lainnya, dan umumnya susunan nama-nama shahabat berdasarkan urutan huruf hijaiyah.

Kitab-kitab Mu’jam ini jumlahnya banyak sekali, dan yang masyhur adalah: Al-Mu’jam al-Kabir. Kitab Mu’jam al-Kabir ini adalah karya Abul al-Qasim Sulaiman bin ahmad al-Thabarani (-360 H). kitab tersebut, disusun berdasarkan Musnad shahabat sesuai dengan urutan huruf hijaiyah, kecuali Musnad Abu Hurairah yang telah disusun dalam  kitab tersendiri, kitab ini memuat 60.000 Hadits.

Kitab Mu’jam yang lain  adalah kitab al-Mu’jam al-Ausat. Kitab ini adalah karya Abul al-Qasim Sulaiman bin Ahmad At-Thabarani juga. Kitab tersebut, disusun berdasarkan nama-nama gurunya  yang hampir mencapai 2.000 orang, dan di dalamnya terdapat 30.000 Hadits.

Berikutnya adalah kitab Al-Mu’jam As-Shaghir. Kitab ini adalah karya Abul al-Qasim Sulaiman bin Ahmad At-Thabarani juga. Kitab tersebut meriwayatkan Hadits dari 1000 orang guru, dan kebanyakan hanya diambil satu Hadits dari setiap guru.

 

Kitab-kitab Atharaf

Kitab Atraf adalah bagian kitab Hadits, yang hanya menyebutkan bagian (tarf) Hadits yang menunjukkan keseluruhannya, kemudian menyebutkan sanad-sanadnya, baik secara menyeluruh atau hanya dinisbatkan (dihubungkan) pada kitab-kitab tertentu. Tetapi sebagian pengarang kitab Atraf ini, ada yang menyebutkan dari segi sanadnya secara menyeluruh dan ada yang hanya menyebutkan gurunya.

Pada umumnya kitab Atraf ini disusun berdasarkan musnad-musnad shahabat sesuai dengan urutan huruf hijaiyah. Maksudnya, kitab tersebut dimulai dengan Hadits-hadits shahabat  yang namanya dimulai dengan huruf alif, kemudian ba,  dan seterusnya. Tetapi terkadang kitab tersebut, disusun berdasarkan huruf awal matan Hadits, seperti yang dilakukan Abul al-Fadi  bin Thahir, dalam kitab Al-Hafizh Muhammad bin Afrad, karya Al-Daruqutni (w. 385 H). Demikian  juga Al-Hafizh Muhammad bin Ali Al-Husaini dalam kitab Al-Kasysyaf Fi-Ma’rifatil al-Athraf, yang memuat kitab Hadits enam yang lazim disebut kutubus sittah. (Thahhan, 1991: 49 dan Abd al-Muhdi, 1987: 108).

Kata Atraf adalah bentuk jamak dari kata Tarf, kata Tarf al-hadits, berartoi bagian matan Hadits yang dapat menunjukan keseluruhannya.

Kitab Atraf tersebut banyak sekali jumlahnya, yang masyhur (terkenal) diantaranya, ialah : Atraf as-Sahihain, karya Abu Mas’ud Ibrahim bin Muhammad al-Dimasyqi (w. 410 H); Atraf Al-Shahiain karya  Abu Muhammad  Khalaf bin Muhammad al-Wasiti (w. 410 H); Al-Asyraf  ‘Ala Ma’rifatil Atraf, tentang atraf Hadits kitab sunan empat, karya Al-Hafizh Abul Qasim Ali bin Al-Hasan, yang terkenal dengan Ibn ‘Asakir al-Damsyiqi (w. 571 H); Tuhfatul Asyraf Fi Ma’rifatil Atraf, tentang Tarf kitab yang enam, karya al-Hafizh Abul Hajjal Yusuf Abdur Rahman al-Mizzi (w. 724 H); Ithaful Mahrah Bi-Atrafil ‘Asyarah, karya Al-Hafizh  Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H); Atraful Masanidil ‘Asyarah karya Abul Abbas Ahmnad bin Muhammad Al-Busairi (w. 840 H); Zakha’irul Mawaris Fi Dilalati ‘Ala Mawadi’il Hadits, karya Abdul Gani Al-Nabulsi (w.1143 H).

Kegunaan kitab Atraf, adalah banyak sekali, namun yang masyhur (terkenal) ialah untuk dapat mengetahui sanad Hadits yang berbeda-beda, tetapi dapat dikumpulkan dalam suatu tempat, dan selanjutnya dapat mengetahui Hadits Gharib, Hadits Aziz, dan Hadits masyhur. Dapat mengetahui para rawi Hadits, yaitu para imam yang mengarang kitab-kitab Hadits pokok, dan bab yang mereka riwayatkan (Thahhan, 1991: 49 dan Abd al-Muhdi, t.th: 109).

Kitab Atraf tidak menyebutkan keseluruhan matan Hadits, seperti tidak menyebutkan lafal Hadits secara harfiah dari kitab-kitab yang ditulis dalam kitab Atraf. Kitab atraf hanya menyebutkan pengertian hadits dalam kitab-kitab hadits tersebut. Karena itu, bagi orang yang menghendaki matan Hadits secara sempurna sesuai dengan lafal aslinya  harus melihat kitab-kitab yang ditulis dalam kitab Atraf. Sebab kitab atraf tersebut, memuat petunjuk yang tepat mengenai  tempat Hadits-hadits itu, tidak seperti kitab musnad, yang menyebutkan Hadits secara keseluruhan  dan tidak perlu melihat sumber aslinya atau sumber lain.

Sebagaimana disebutkan bahwa jumlah kitab Atraf adalah banyak jumlahnya, sebagian (dua) dari beberapa kitab atraf tersebut di antaranya akan diuraikan tujuan dilakukannya penyusunan, sebagai berikut:

 

Tuhfatul Asyraf Bi-Marifatil atraf

Kitab Atraf ini dikarang oleh Al-Hafizh Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf bin Abdur Rahman Al-Mizzi (w. 742 H). Tujuan pokok penulisan kitab atraf adalah menghimpun kitab-kitab hadits enam dan sebagian tambahannya, dengan cara yang mudah untuk dapat mengetahui sanadnya yang berbeda-beda, tetapi dapat terhimpun dalam satu  tempat, dan pokok bahasan kitab Atraf adalah menyebutkan bagian Hadits-hadits kitab enam dan sebagian tambahannya, yang terdiri atas: Mukadimmah Shahih Muslim; kitab Al-Marasil, karya Abu Dawud; Kitab Al-‘llalus-Shaghir, karya At-Turmuzi, yang terdapat dalam kitab Al-Jami’; kitab Al-Syama’il, karya At-Turmuzi; dan Kitab ‘Amalil Yaumi Wal-Lailah, karya An-Nasa’i.

 

Dzakha’irul Mawaris Fid-Dillalati ‘Ala Mawadi’il Hadits

Kitab ini dikarang Syekh Abdul Gani Al-Nabulsi al-Dimasyqi al-Hanafi (1050 H-1143 H). pokok bahasan kitab ini adalah menghimpun bagian-bagian (Atraf) Hadits kitab enam dan Muwathatha’ Imam Malik. Kitab ini disusun berdasarkan  Musnad-musnad shahabat, sesuai dengan urutan huruf hijaiyah, yang dimulai dari huruf hamzah sampai  denga ya’. Kitab ini di bagi menjadi tujuh bab, setiap bab disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah agar mudah  menakhrijkannya (Thahhan, 1991: 50 dan Abd Al-Muhdi, 1987 : 110). Bab-bab itu adalah memuat:

Pertama, tentang musnad-musnad shahabat laki-laki; tentang musnad-musnad perawi yang dikenal dengan nama kuniyahnya, yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah, dengan memperhatikan huruf pertama nama perawi  tang memakai nama kuniyah.

Kedua,  tentang musnad-musnad shahabat laki-laki yang samar (mubham), disusun berdasarkan beberapa pendapat  tentang urutan nama-nama mereka; tentang Musnad-musnad sahabat perempuan.

Ketiga, tentang Musnad-musnad sahabat perempuan yang dikenal dengan nama kuniyahnya.

Keempat, tentang Musnad-musnad shahabat perempuan yang samar (mubham) sesuai dengan urutan nama-nama mereka.

Kelima, tentang Hadits-hadits mursal sesuai dengan nama-nama perawinya. Pada bab ini ditambah tiga pasal, yaitu tentang kuniyah perawi laki-laki, perawi yang samar, dan perawi perempuan Hadits-hadits  mursal. Di antara bab-bab tersebut, ada yang dibagi menjadi beberapa pasal tentang sesuatu yang berhubungan  dengamn sebagaian nama-nama kunyah dan yang menyerupai dengannya.

 

2. Metode Kedua

Yakni jalan Mengetahui Lafal Pertama dari Matan Hadits. Metode ini dipergunakan ketika kita hendak mengetahui lafal pertama dari matan Hadits, sebab tanpa mengetahui lafal pertama dari matan Hadits, sia-sialah usaha kita. Kitab-kitab pembantunya ada tiga macam kitab yang membantu kita dalam menggunakan metode ini, yaitu:

Kitab-kitab tentang Hadits yang masyhur di kalangan masyarakat.

Kitab-kitab tentang Hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah.

Kitab-kitab Miftah (kunci) dan fahras (kamus) kitab-kitab Hadits tertentu.

Karena keterbatasan referensi, penelitian ini tidak mempergunakan metode tersebut. Akan tetapi, ada jenis kitab atraf  lain yang dipergunakan, yaitu kitab Mawsu’at Atraf al-Hadits al-Nabawi al-Syarif, karya Abu Hajar Muhammad al-Sa’id bin Basuni Zaghul. Kitab ini dicetak 10 jilid, diterbitkan  di Beirut oleh penerbit ‘Alam al-Turats, tahun 1989 M/1410 H.

Kitab ini mempergunakan awal kata dari matan Hadits. Oleh karenanya menjadi  relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan kitab-kitab pembantu sebelumnya.

 

Metode ketiga   

Yakni jalan atau cara Mengetahui Lafal Matan yang Sedikit. Berlakunya mempraktikan metode takhrij ketiga ini, kita dapat menggunakan kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi, yang akan dijelaskan ciri-ciri lengkapnya, sebagaimana berikut ini:

Kitab ini merupakan kitab mu’jam yang memuat daftar lafal-lafal Hadits sembilan kitab Hadits yang termasyhur, yaitu kitab hadits enam, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Ahmab, Sunan Al-Darimi. Kitab Mu’jam ini disusun oleh sekelompok  orientalis  dan  diterbitkan  oleh salah satu di antara mereka, yaitu Dr. A. Wensinck (w. 1939 M), salah seorang dosen bahasa Arab di Leiden, dan dicetak oleh percetakan  E.J. Brill di Leiden Belanda.

Muhammad Fuad Abdul Bagi adalah salah seorang yang membantu mereka dalam menakhrijkan Hadits dan menerbitkan kitab  mereka. Menurut Thahhan,  proyek ini dilakukan mendapat bantuan materil dari Lembaga Keilmuan Britania, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Aleksander Pasa Lembaga  Sosial Belanda, dan lembaga-lembaga keilmuan lainnya.

Kitab ini disusun menjadi tujuh jilid besar, jilid pertama dicetak pada tahun 1936 M dan jilid ketujuh dicetak pada tahun 1969 M, sehingga secara keseluruhan, kitab ini dicetak selama 33 tahun, suatu hal yang sangat disayangkan bahwa kitab ini tidak mencantumkan mukadimmah kitab yang menjelaskan tentang sistematika penyusunan kitab, padahal masalah itu sangat dibutuhkan. Hanya saja pada awal jilid ketujuh dicantumkan beberapa pentunjuk dan penjelasan tentang susunan lafal dan pengertiannya, lengkap dengan petunjuk praktis mengenai cara penggunaanya, namun penjelasan dan petunjuk tersebut masih belum lengkap.

Sistematika kitab mu’jam ini mendekati sistematika  kitab-kitab Mu’jam Lughat, namun tidak berdasarkan  urutan huruf, nama-nama asli (‘alam), dan kata jenis fi’il yang banyak berlaku, seperti qala dan Ja`a, serta semua kata bentukannya. Dalam rangka memenuhi kehendak orang  yang membutuhkan beberapa Hadits yang sama bahasannya, seringkali pembahasan berpindah pada bahasan lain ketika membahas satu bahasan. Inilah yang menjadi sebab adanya tuduhan orang bahwa kitab Mu’jam ini mempunyai kekurangan banyak, dan pengarang tidak membuat daftar kata-kata Hadits dari kitab-kitab  yang mestinya dibuatkan daftar kata-katanya.

Jika pembahasanya banyak, sistematiak seperti ini, akan mempersulit, membikin kacau, banyak membutuhkan waktu, dan terkadang membosankan  orang yang mempergunakannya, hingga tidak jadi mencari Hadits karena sangat banyak pembahasan yang keluar dari bahasan tertentu. Bahkan terkadang seseorang harus mencari 50 pembahasan atau lebih guna mencari sebuah Hadits.

Mengetahui susunan pembahasan dalam kitab mu’jam ini merupakan suatu keharusan bagi orang yang mempergunakannya. Karena itu, berikut ini dikemukakan hal-hal yang berhubungan  dengannya secara sempurna, sebagaimana berikut ini: “Susunan pembahasan Al-Mu’jam al-Mufahras Li-Alfazh al-Hadits al-Nabawi. Beberapa jenis kata fi’il madi, mudari, amar, (isim  fi’il), isim maful, dan  beberapa bentuk kata setelahnya sesuai dengan dhamimnya.

Pengurangan huruf terletak diatas nas (teks) dan kitab rujukan yang telah diterangkan sebelumnya. Dua bintang (**) merupakan tanda pengulangan lafal Hadits, bab atau halaman. Kitab-kitab Hadits yang menjadi bahasan Mu’jam  ini dipakai tanda (rumus) tertentu, sebagai berikut: untuk Shahih Bukhari (  خ ), untuk Shahih Muslim ( م  ), untuk Jami ‘At-Turmuzi (  ت ), untuk sunan Abu Dawud ( د ), untuk Sunan An-Nasa’i. ( ن  ), untuk Sunan Ibnu Majah (  جه ), untuk Al-Muwaththa  (   ط ), untuk Munsad Ahmad bin Hanbal ( حم  ), untuk Musnad Ad-Darimi ( دى  ).

Beberapa tanda ini tertulis dibawah, pada setiap dua halaman  kitab Mu’jam, guna memudahkan orang yang menggunakan mu’jam  dan mengingatnya. Cara yang dipakai mu’jam ini dalam menunjukkan tempat Hadits dalam sembilan kitab Hadits tersebut, setelah dituliskan tanda-tandanya, adalah dengan menulis nama pembahasan Hadits, kecuali dalam Musnad Ahmad. Karena pada kitab musnad ini disusun berdasarkan nama-nam shahabat, kemudian menjelaskan nomor bab dan penjelasan tersebut, kecuali dalam Shahih Muslim dan Muwaththa’, karena nomor pembahasan dua kitab ini berangkat mulai dari awal kitab, bukan dari suatu pembahasan materi. Sedang cara menunjukkan tempat Hadits dalam Musnad Ahmad adalah dengan menulis nomor besar (nomor Juz) dan nomor kecil (nomor halaman).

      

4. Metode Keempat

Yakni jalan mengetahui materi bahasan. Metode ini merupakan langkah cara penelitian yang berbeda dengan metode yang disebutkan sebelumnya, yaitu dengan jalan mengetahui pokok bahasan Hadits.

Menurut Thahhan, metode ini hanya dapat digunakan oleh orang-orang yang menguasai pembahasan atau satu dari beberapa pembahasan Hadits, atau oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan luas. Dan karena setiap orang belum tentu menguasai pembahasan setiap hadits, terutama terhadap Hadits yang belum jelas pembahasannya. Bagi setiap peneliti harus menempuh metode takhrij ini, dan memang tidak terdapat metode lain yang lebih mudah dari metode takhrij ini.

Penggunaan metode ini, mentakhrij Hadits berdasarkan  metode ini dapat memakai kutab-kitab Hadits yang tersusun berdasarkan bab dan pembahasan fiqih. Kitab-kitab ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

Kitab Hadits yang membahas seluruh masalah keagamaan, yang masyhur di antaranya adalah Al-Jawami’, Al-Mustakharajat Wal-Mustadrakat ‘Alal Jawami’, Az-Zawa’id, dan Miftahu Kunnzis-Sunnah.

Kitab Hadits yang membahas sebagaian besar masalah keagamaan, yang terdapat bermacam-macam kitab, dan yang masyhur di antaranya adalah As-Sunan., Al-Musannafat, Al-Muaththa’atdan Al-Musatakhrajat ‘Alas-Sunan.

Kitab Hadits yang membahas masalah atau aspek tertentu dari beberapa masalah atau aspek keagamaan, yang terdapat bermacam-macam kitab, dan yang termasyhur di antaranya adalah Al-Ajza’, At-Targhib Wa-Tarhib, Az-Zuhd Wal-Fada’il Wal Adab Wal-Akhlaq, Al-Ahkam.

Pembahasan-pembahasan tertentu, kitab-kitab bidang tertentu, kitab-kitab takhrij, dan beberapa kitab syarh hadits serta komentarnya. Macam-macam kitab tersebut pada kesempatan ini tidak akan diterangkan kecuali kitab Miftah Kanuz al-Sunnah.

Kitab Miftahu Kunuzis-Sunnah, adalah kitab yang disusun oleh orientalis Belanda, Dr. AJ. Wensinck, pada tahun 1939 M. dalam bahasa Inggris, juga yang kemudian diterjemahkan menjadi bahasa Arab dengan beberapa perbaikan, perbandingan, dan pemeriksaan teks.

Penerbitan pertama  kali dengan bahasa Arab dilakukan oleh (ustaz Muhammmad Fuad Abdul Baqi pada tahun 1352 H/1933 M). kitab ini merupakan Fahras dan petunjuk Hadits yang masyhur dan merupakan kitab pokok.

Empat belas kitab itu adalah sebagai berikut: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Abu Dawud, Sunan At-Turmuzi, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa Imam Malik, Musnad Ahmad, Musnad Abu Dawud At-Toyalisi, Sunan Ad-Darimi, Musnad Zaid bin Ali, Syirah Ibnu Hisyam, Maghaziy Al-Waqidi, Thabaqat Ibnu Sa’ad.

Penyusunnya adalah seorang orientalis sekaligus seorang guru besar bahasa syam pada Universitas Leiden.  Penyusunan kitab ini menghabiskan waktu sepuluh tahun. Kitab tersebut diterjemahkannya ke bahasa Arab dan ditelitinya kembali teksnya selama empat tahun. Topik-topik pembahasaanya disusun dengan memakai sistematika  penyusunan  sebagaimana dijelaskan Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dalam Mukadimmah kitab tersebut.

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: A.J. Wensinck menyusun kitabnya berdasarkan makna-makna  (pengertian) Hadits, masalah-masalah keilmuan, dan kejadian bersejarah. Setiap makna dibagi menjadi beberapa bahasan  secara terperinci dan berhubungan dengan makna tersebut, kemudian bahasan-bahasan tersebut disusun berdasarkan  urutan huruf hijaiyah dan beliau berusaha menghimpun Hadits-hadits  dan atsar yang berlaku  dan berhubungan dengan bahasan tersebut.

Keterangan tersebut menjelaskan bahwa sistematika penyusunan kitab beliau pada mulanya berdasarkan pokok-pokok bahasan dan makna Hadits, kemudian keduanya disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah sesuai dengan lafal-lafal Hadits, dan diterangkan secara terinci pada dua alinea berikutnya dengan didukung beberapa Hadits dan atsar dalam empat belas kitab Hadits  yang hubungan dengan bahasan dua aliena di atasnya.

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha  juga memberi pengantar pada kitab ini. Dalam pengantarnya beliau berkata, “pokok bahasan dalam kitab Miftahu Kunuzis Sunnah ini merupakan petunjuk bagi orang  yang membaca Hadits, atsar, dan manakib (perilaku baik) dalam kitab-kitab Shahih, Sunan, Musnad, Siyar (perjalanan hidup), thabaqat, dan Al-maghazi. Namun kitab ini tidak menunjukkan tempat-tempat hadits secara langsung, baik yang dihapal secara keseluruhan atau sebagian saja  dalam kitab-kitab tersebut seperti halnya kitab Miftah Ahaditsi Shahihaini”.

Jadi kita ini hanya menunjukkan judul bahasan dalam empat belas kitab tersebut dengan memperhatikan kalimat tertentu yang dapat menunjukkan pokok bahasannya kemudian sub-sub bahasannya.  Sistematika kitab (bahasan) seperti ini sangat baik  daripada sistematika kitab yang berdasarkan kata pertama atau satu kata dari beberapa kata Hadits.

Sistematika seperti ini dapat manunjukkan Hadits-hadis dari suatu bahasan yang hendak diteliti, meski tidak hapal terhadap Hadits itu. Sedang sistematika yang berdasarkan pada kata pertama Hadits, seseorang harus hapal kata pertama atau bagian lain dari suatu Hadits, padahal tidak mesti menghafalnya. Cara menunjukkan Hadits dalam empat belas kitab hadits tersebut adalah:

Menyebutkan nomor bab dalam Shahih Bukhari, Sunan Abu Dawud, Sunan Al-Turmuzi, Sunan Al-Nasai, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan Al-Darimi, setelah terlebih dahulu menyebutkan nama kitab (bahasan) dengan singkatan  huruf kaf (kitab : bahasan) dan nomor urutnya.

Menyebutkan nomor Hadits dalam Shahih Muslim, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Zaid bin Ali, dan Musnad Abu Dawud Al-Tayalisi, setelah terlebih dahulu menyebutkan  bahasan sesaui dengan Shahih Muslim dan Muwaththa’ Malik saja. Menyebutkan nomor halaman  Hadits dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, Thabaqat Ibnu Sa’ad, Syirah Ibnu Hisyam dan Maghazi, Al-Waqidi, setelah terlebih dahulu menyebutkan juz kitab sesuai dengan Musnad Ahmad, atau setelah  terlebih dahulu menyebutkan juz dan pembagian babnya sesuai dengan Thabaqat Ibnu Sa’ad.

Dibawah ini dikutip teks kitab Miftahu Kunuzis Sunah pada halaman pertama dari naskah yang dicetak  dalam bahasa arab sebagai  berikut: “kitab Miftahu Kunuzis Sunah adalah kamus Hadits yang luas dan mendetail, menjelaskan Hadits-hadits nabi yang dibukukan dalam kitab-kitab Hadits karya empat belas imam yang terkenal. Hal ini dengan menunjukkan tempat-temat Hadits dalam dalam Shahih Bukhari, Sunan Abu Dawud, Sunan Al-Turmudzi, Sunan Al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan Al-Darimi dengan menjelaskan nomor babnya. Dalam Shahih  Muslim, Muwaththa’ Malik, Musnad Zaid bin Ali,dan Musnad Abu Dawud Al-Tayalisimenjelaskan nomor Haditsnya.

Dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal, Thabaqat Ibnu Sa’ad, Syirah Ibnu Hisyam,dan Maghazi Al-Waqidi yang menjelaskan nomor halamannya. Dengan cara-cara seperti itu, seseorang dapat menemukan Hadits yang dimaksud tanpa menemui kesulitan.

Empat belas kitab yang dipakai pengarang dalam kitab Miftahu Kunuzis Sunnah adalah setakan sebagai berikut:

Shahih Bukhari, cetakan Leiden, tahun 1862-1868 M dan tahun 1907-1908 M.

Shahih Muslim, cetakan Boulaq, tahun 1920 H.

Sunan Abu Dawud, cetakan Kairo, tahun 1280 H.

Sunan (Jami’) Al-Turmudzi, cetakan Boulaq, tahun 1292 H.

Sunan Al-Nasa’I, cetakan Kairo, tahun 1312 H.

Sunan Ibnu Majah, cetakan Kairo, tahun 1313 H.

Sunan Al-Darimi, cetakan Delhi, tahun 1337 H.

Al-Muwaththa’, cetakan Kairo, tahun 1379 H.

Musnad Ahmad, cetakan Al-Maimuniyah Kairo, tahun 1313 H.

Musnad At-Tayalisi, cetakan Haidar Abad, tahun 1321 H.

Musnad Zaid bin Ali, cetakan Mailanu, tahun 1919 M.

Thabaqat Ibnu Sa’ad, cetakan Leiden, tahun 1904-1908 M.

Syirah Ibnu Hisyam, cetakan Gratniq, tahun 1859-1860 M.

Maghazi Al-Waqidi, cetakan Berlin, tahun 1882 M.

Kebanyakan kitab diatas telah langka atau mungkin  telah tiada, kita berpindah pada sembilan kitab pertama, yang merupakan pembicaraan kitab Mu’jam Mufahras, sebagaimana diterangkan dalam pembicaraan tentang kitab Mu’jam  dan kitab-kitab yang sesuai dengannya. Sembilan kitab pertama itu sesuai dengan Fahras Miftahu Kunuzis Sunnah yang sedang dibicarakan. Jika lima kitab terakhir yang menjadi reperensi pengarang mudah kita temukan. Tentu lebih baik. Namun jika tidak mudah ditemukan, maka dapat memakai kitab cetakan yang mendekatinya.

Untuk kitab tersebut, pada akhir tulisan ustaz Muhammad Fuad Abdul Baqi  tentang cara penggunaan  kitab Miftahu Kunuzis Sunnah, disebutkan bahwa jika seorang tidak mendapatkan Hadits yang dimaksud pada bab yang telah ditunjukkan nomornya oleh pengarang, hendaknya maju atau mundur satu atau dua bab, di sana ia akan mendapatkannya. Hal seperti ini terjadi karena adanya perbedaan jumlah bab yang disebabkan perbedaan cetakan, kecuali dalam Shahih Bukhari yang telah dicetak lengkap dengan nomor Haditsnya. Sehingga, dapat diketahui jumlah bahasannya sesuai dengan cetakan Leiden.

Demikian juga, (Ustaz Ahmad syakir dalam mukadimmah kitab ini juga menerangkan) bahwa pengarang kitab Miftahu Kunuzis Sunnah tidak membuat daftar, pendapat Imam Malik atau lainnya  tentang fikih dalam kitab Muwaththa’. Tetapi, hanya membuat daftar Haditsnya. Selian itu, tidak disebutkan nomor urut sanad Hadits yang diulang oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya sebagai penguat Hadits pertama yang disebutkan secara lengkap sistematika seperti itu, juga dipakai dalam kitab Mu’jam Mufahras Li Al-Fazil Haditsin Nabawi. Tetapi, beliau menyampaikan secara jelas.

Kitab ini sangat berguna bagi orang yang mendalami hadits karena dapat memenuhu tempat-tempat Hadits. Utamanya bagi orang yang hendak menulis karya ilmiah tentang bahasan yang berhubungan dengan Hadits. Kitab ini sangat membantu untuk menghimpun Hadits-hadits atau dasar yang berhubungan dengan bahasan tersebut, dengan cara yang tidak terdapat dalam kitab lain.

 

Metode Kelima

Yakni dengan jalan Meneliti Sanad dan Matan Hadits (Thahhan, 1991: 129 dan Muhdi, 1987 : 243). Yang dimaksud dengan metode ini adalah mempelajari sedalam-dalamnya tentang kedaan matan dan sanad Hadits, kemudian mencari sumbernya dalam kitab-kitab yang khusus membahas keadaan matan dan sanad Hadits tersebut. Pembahasan yang berhubungan dengan Hadits adalah banyak sekali, dalam hal ini hanya disebutkan sebagiannya. Hal ini dimulai dengan pembicaraan tentang sifat dan keadaan matan, sanad, dan kemudian keduanya.

 

Penelitian Matan

Jika dalam matan Hadits terdapat tanda-tanda kepalsuan seperti lemah lafalnya, rusak maknanya atau bertentangan dengan teks al-Qur’an yang sharih atau sebagainya maka cara yang tepat untuk mengetahui  sumbernya adalah melihat kitab-kitab Al-mauduat (kitab-kitab Hadits maudhu). Dengan kitab ini, dapat diketahui hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat tersebut di atas, takhrijnya, bahasannya, dan penjelasan tentang orang yang memasukannya.

Di antara kitab-kitab tentang Hadits maudhu terdapat kitab yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah dan terdapat yang disusun berdasarkan bab-bab fikih. Kitab yang disusun berdasrkan huruf hijaiyah adalah, Al Maudu’atul kubra karya Syekh Ali Al-Qari Al-Hawari (-1014) kitab yang disusun berdasarkan bab-bab fikih adalah Tanzihusy-Syariat Al-Marfu’ah Anil Ahaditsis-Syari’ah Al-Mauduah, karya Abu Hasan Ali bin Muhammad Al-Kannani (963 H).

Jika matan itu termasuk Hadits qudsi, maka sumber yang tepat untuk mencarinya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun Hadits-hadits qudsi. Di antara kitab-kitab tentang hadits qudsi ialah: Misykatul Anwar Fima Ruwiya ‘Anillahi Subhanhu Wa Ta’ala Minal Akhbar, karya Muhyiddin Muhammad bin Aii bin Arabi Al-Khatimi Al-Andalusi (-638 H), yang menghimpun 101 hadits qudsi lengkap dengan sanadnya; dan Al-Ithafus-Saniyyah Bil Ahadits Qudsiyyah, karya syekh Abdul-Rauf Al-Munawi (-1031 H), yang berisi 272 Hadits tanpa sanadnya, namun disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah.

 

Penelitian Sanad

Jika dalam sanad Hadits terdapat kesamaran, seperti seorang bapak meriwayatkan Hadits dari  anaknya, maka sumber yang tepat untuk menahkrijnya adalah kitab-kitab yang khusus tentang Hadits-hadits riwayat bapak dari anaknya, seperti kitab Riwayatul Aba’ Anil Abna’, Karya Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khatib Al Baghdadi (w. 463 H).

Jika sanadnya musalsal, maka dapat dipakai  kitab-kitab tentang Hadits musalsal, seperti kitab Al-Musalsalatul Kubra, karya As-Suyuthi, yang menghimpun 85 hadits musalsal, dan kitab Al-Manahilus Salsalah Fil Ahaditsil Musalsalah, karya Muhammad bin Abdul Baqi Al-Ayyubi, yang menghimpun 212 hadits Musalsal.

Jika sanadnya mursal, maka dapat dipakai kitab-kitab  tentang Hadits mursal, seperti kitab Al-marasil, karya Abu Dawud As-Sijistani, yang disusun berdasarkan bab-bab fikih, dan kitab Al-Marasil, karya Ibn Abi Hatim Abdur Rahman bin  Muhammad Al-Hanzal Ar-Razi (w. 327 H).

Jika perawinya lemah, maka dapat dicari dalam kitab-kitab tentang perawi dhaif yang masih dibicarakan kualitasnya seperti kitab Mizanul I’tidal, karya Az-Zahabi.

 

c. Penelitian Matan dan Sanad  

Dalam hal ini terdapat beberapa sifat dan kedaan seperti adanya  illat dan kesamaran baik dalam matan atau sanad Hadits. Hadits yang demikian dapat dicari dalam kitab-kitab yang khusus membicarakan illat dan kesamaran hadits, yang di antaranya:

Ilalul Hadits, karya Ibnu Abu Hatim Ar-Razi, yang disusun berdasarkan bab-bab fikih. Pada tiap-tiap bab disbutkan hadits-hadits yang mengandung illat dan diterangkan illatnya secara baik.

Al-Asma’ul Mubhamah Fil Anba’il Muhkamah, karya Al-Khatib al-Baghdadi. Dalam kitab ini dibahas hadits-hadits yang matannya  mengandung nama-nama atau hal-hal yang samar, kemudian hal itu dijelaskan dengan mengemukakan hadits riwayat lain yang menyebutkan nama atau hal yang samar tersebut secara jelas. Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf  hijaiyah sesuai dengan nama atau hal yang samar itu. Mengetahui nama atau hal yang samar tersebut adalah sulit sekali, karena bagi orang yang telah mengetahuinya tentu tidak perlu, dan bagi yang belum mengetahuinya tidak akan mengetahui tempatnya.

Al-Mustafad Min Mubhamatil Matni Wal Isnad, karya Abu Zur’ah  Ahmad bin Abdur Rahim Al-Iraqi. Kitab ini disusun berdasarkan bab-bab fikih  dan termasuk kitab yang paling berguna  serta lengkap dalam membicarakan hal ini.”

Menurut Muhammad Thahhan, kelima metode tahkrij dan pengetahuan sumber-sumber periwayatan Hadits tersebut di atas di susun melalui penelitian dan pembahasan yang belum  pernah di lakukan oleh seorang pun sebelumnya. Karena itu pada saat ini belum terdapat kepentingan yang mendesak seperti ini, sebagaimana telah dikatakan dalam mukadimah kitab ini. Berbeda dengan keadaan dewasa ini, sebagian besar mahasiswa atau peneliti Hadits sangat membutuhkan penjelasan tentang metode-metode takhrij dan kitab-kitab yang dipakai  dalam mempraktikan setiap metode takhrij ini.

Berdasarkan latar belakang itu Mahmud Thahhan menyusun kitab dan menjelaskan  metode-metode takhrij seperti ini, agar penakhrijan Hadits merupakan hal yang mudah dilakukan dan tersebar luas di kalangan mahasiswa syar’i, bahkan intelektual pada umumnya. Selain itu, agar penakhrijaan Hadits tidak hanya dikuasai orang-orang yang merupakan soko gurunya, karena dengan meninggalnya  mereka maka hilanglah ilmu itu. Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan, Artinya: “Sesungguhnya ilmu (ini) tidak akan sima hingga ia menjadi samar.” (Mahmud Al-Thahhan, 1991:132-3).

Metode takhrij ini bukanlah merupakan metode yang sempurna dan meliputi seluruh metode takhrij yang dapat diterapkan, sehingga penelitian cukup sampai di sini saja. Sebabnya pada masa mendatang  mungkin sekali terdapat metode-metode lain yang lebih mudah untuk penelitian dalam penakhrijan Hadits, seperti penakhrijaan hadits dengan mempergunakan komputer.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Mahmud al-Thahhan, Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid, Beirut: Dar al-Fikr, 1991.

 

Abadi, Abu Al-Tayyib Muhammad Syams Al-Haq Al-‘Azim, ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Dar Al-Fikr, Edisi Baru, Jld. V, tt.

‘Abd Al-Baqi, Muhammad Fu’ad, Al-Mu’jam Al-Mufahrasy li Al-Faz Al-Qur’an Al-Karim, Dar Al-Fikr, Beirut, Cet. IV, 1994 M/1414 H.

Abdullah, Taufik dan Abdurrachman Surjomihardjo (redaktur), Ilmu Se-jarah dan Historiografi, Gramedia, Jakarta, 1985.

Abu Muhammad, ‘Abd Al-Muhdi b. Abd Al-Qadir b. Al-Hadi, Turuq Takhrij Hadis Rasulillah saw, Dar Al-I’tisam, tkp, tt.

Abu Nu’aim, Ahmad b. ‘Abd Al-lah Al-Asbahani, Hilayat Al-Auliya wa Tabaqat Al-Asfiya’, Sepuluh jilid, Mesir: Matba’at Al-Khanaji dan Matba’at Al-Sa’adah, 1932 M.

Abu Syuhbah, Muhammad Muhammad, Fi Rihab Al-Sunnah Al-Kutub Al-Shihah Al-Sittah, Al-Azhar, Majma’ Al-Buhus al-Islamiyah, 1969 M/1389 H.

Abu Zahrah, Usul Al-Fiqh, Dar Al-Fikr Al-‘A Arabi, Bairut, tt.

__________, Tarikh Al-Mazahib Al-Islamiyah, Dar Al-Fikr, Bairut, 1989.

Abu Zahw, Muhammad Muhammad, Al-Hadis wa Al-Muhaddisun, Mat-ba’at Misr, tkp, tt.

Al-Adlabi, Salah Al-Din b. Ahmad, Manhaj Naqd Al-Matan, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Bairut, Cetakan I, 1983M/1403 H.

Al-Albani, Muhammad Nasir Al-Din, Silsilat Al-Ahadis Al-Sahihah, Al-Maktab Al-Islami, Bairut, Jilid IV, Cetakan IV, 1398.

Al-Asfahani, Abu Al-Qasim Al-Husain b. Muhammad Al-Raghib, Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, diedit oleh Muhammad Sayyid Kai-lani, Dar Al-Ma’arifah, Bairut, tt.

Al-Asqalani, Ahmad b. Ali b. Hajar, Nuzhat Al-Nazr, diedit oleh Ishaq ‘Azuz, Maktabat Ibn Taimiyah, 1990 M/1411H.

__________, Tahzib Al-Tahzib, Dar Al-Fikr, Bairut, Empat Belas Jilid, Cetakan I, 1984 M/1404 H.

__________, Taqrib Al-Taqrib, Dar Al-Ma’arifah, Bairut, diedit oleh ‘Abd Al-Wahhab ‘Abd Al-Latif, Dua Jilid, tt.

A’zami, Muhammad Mustafa, Studies in Early Hadith Literature, American Trust Publication, Indianapolis, Indiana, Edisi III, 1992.

__________, Dirasat fi Al-Hadis Al-Nabawi wa Tarihk Tadwinih, Al-Mak-tab Al-Islami, 1992 M/1413 H.

__________, Manhaj Al-Naqd ‘inda Al-Muhadditsin, Maktabat Al-Kau-sar, Riyad, 1982 M/1402H.

Azra, Azyumardi, “Peranan Hadits Dalam Perkembangan Histotiografi Islam”, Naskah Orasi Ilimiah Dies natalis IAIN Syarif Hidaya-tullah Jakarta, 31 Juli 1993, h.1.

Badran, Badran Abu Al-‘Ainain, Al-Hadis Al-Nabawi Al-Syarif: Tariikhuh wa Mustalahatuh, Mu’assasat Syabab Al-Jami’ah, Iskandariyah, 1983.

Al-Baghdadi, Abu Bakar Ahmad b. ‘Ali b. Sabit Al-Khatib, Tarikh Bagh-dad, Dar Al-Fikr, Bairut, Sembilan Belas Juz (beserta Zail),tt.

__________, Al-Jami li Akhlaq Al-Rawi wa Adab Al-Sami’, Muassasat Al-Risalah, Bairut, diedit oleh Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib, Dua Jilid, 1991 M/1412 H.

Al-Baghdadi, Abd Al-‘Aziz b. Ishaq, Musnad Al-Imam Zayd, Dar Al-Ku-tub Al’Ilmiyyah, Bairut, 1983.

Al-Baidawi, Nasir Al-Din, Minhaj Al-Wusul fi Ma’rifat ‘Ilm Al-Usul, ‘Alam Al-Kutub, Bairut, Cetakan I, 1985 M/1405 H.

Al-Baihaqi, Abu Bakar Ahmad b. Al-Husain, Sunan Al-Kubra, Dar Al-Fikr, Bairut, Sepuluh Jilid, tt.

_________, Fadail Al-Awqat,Maktabat Al-Manarah, Makkah Al-Mu-karramah, diedit oleh ‘Adnan ‘Abd Al-Rahman Majid Al-Qisi, 1990 M/1410 H.

Al-Bandari, ‘Abd Al-Ghaffar Sulaiman dan Sayyid Kasrawi Hasan, Mau-su’at Rijal Al-Kutub Al-Tis’ah, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Bairut, Empat Jilid, 1993 M/1413 H.

Bik, Mihammad Al-Khudhariy, Nur Al-Yaqin fi Sirat Sayyid Al-Mursalin,Mathba’ah Al-Istiqomah, Al-Qahirah, 1953.

Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad b. Isma’il, Sahih Al-Bukhari, Dar Al-Fikr, Bairut, Edisi Musykkal, Empat Jilid, tt.

Al-Buti, Muhammad Sa’id Ramdan, Fiqh Al-Sirah, Dar Al-Fikr, Bairut, tt.

Al-Dahlawi, Syah Waliyullah b. ‘Abd Al-Rahim, Hujjatullah Al-Balighah,Arambagh, Karachi, tt.

Al-Damini, Musfir ‘Azm Al-Lah, Maqayid Naqd Mutun Al-Sunnah, Ja-mi’ah Al-Imam Muhammad b. Su’ud Al-Islamiyah, Riyad 1984 M/1404 H.

Al-Darimi, Abu Muhammad ‘Abdullah b. Abd Al-Rahman, Sunan Al-Darimi, Dar Al-Fikr, Bairut, Dua Jilid, tt.

Al-Daruqutni, Ali b. Umar, Al-Ilzamat wa Al-Tatabbu, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, 1985.

Al-Dinawari, Abu Muhammad ‘Abdullah b. Muslim Ibn Qutaibah, Al-Imamah wa Al-Siyasah, Muassasah Al-Halibi, diedit oleh Taha Al-Zaini, tkp, tt.

Enayat, Hamid, Modern Islamic Political Thought, The Macmillan Press Ltd, London, 1982.

Al-Farisi, ‘Ala Al-Din ‘Ali b. Balban, Al-Ihsan bi Tartib Sahih Ibn Hibban, Tujuh Jilid, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, tt.

Al-Fasawi, Abu Yusuf Ya’qub b. Sufyan, Kitab Al-Ma’rifah wa Al-Tarikh, Emapat Jilid, Maktabat Al-Dar, Al-Madaniat Al-Munawarah, 1401 H.

Al-Ghazali, Muhammad, Fiqh Sirah, Dar Al-Fiqr, Bairut, 1988.

Al-Ghimari, Ahmad b. Muhammad Al-Siddiq, Husul Al-Tafrij bi Usul Al-Takhrij,Maktabat Tabariyat, Riyad, 1994.

Gibb, H.A.R. Mohammedanisem,OxpordUniversity Press, London, Edisi II, 1953.

Goldziher, Ignaz, Muslim Studies,diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Inggris oleh C.R. Barber dan .S.M. Stern, George Allen & Union Ltd., London Cetakan II, 1971.

Gottschalk, Louis, Understanding Story, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nugroho Notosusanto (Mengerti Sejarah), UI-Press, Jakarta, 1986.

Haikal, Muhammad Husein, Hayat Muhammad, Maktabat, Al-Nahdayat Al-Misriyyah, Al-Qahirah, Cetakan XIII, 1968.

Al-Haisami, Nur Al-Din ‘Ali b. Abi Bakar, Majma’ Al-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid, Dar Al-Fikr, Bairut, Sepuluh Jilid, tt.

Al-Hakim, Abu ‘Abd Al-Lah Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala Al-Sa-hihayn, Emapat Jilid, Maktabah Al-Islamiyyah, Bairut, tt.

__________, Tasmiat Man Akhrajah Al-Bukhari wa Muslim, Dar Al-Jinan dan Mu’assasat Al-Kutub Al-Saqafiah, Bairut, Cetakan I, 1987 M/1407 H.

__________, Ma’rifat Ulum Al-Hadis, Maktabat Al-Matnabi, Al-Qahi-rah, tt.

Al-Harrani, Abu Muhammad Al-Hasan b. ‘Ali b. Al-Husayn b. Syu’bah, Tuhfat Al-‘Uqul ‘an Ali Al-Rasul saw, Mu’assasat Al-Nasr Al-Islami, Qum, 1404 H.

Al-Has’ami, Abu Al-Qasim ‘Abd Al-Rahman b. ‘Abdillah, Al-Rawd Al-Anf fi Tafsir Al-Sirah Al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Emapat Juz, Dar Al-Fikr, Bairut, Empat Juz, tt.

Al-Himyari, Abu Muhammad ‘Abd Al-Mulk b. Hisyam b. Ayyub, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Empat Jilid, Dar Al-Qalam, Bairut, tt.

Hitti, Philip K. History of the Arab, The Macmillan Press, London, Edisi X, 1974.

Al-Husaini, Ibrahim b Muhammad b. Hamzah, Al-Bayan wa Al-Ta’rif fi Ashab Wurud Al-Hadis Al-Syarif, Al-Maktabah Al-Ilmiyyah, Bairut, diberi kata pengantar oleh ‘Abd Al-Halim Mahmud, Cetakan I, 1982 M/1402 H.

Ibn ‘Abd Al-Qadir, Muwaffiq b. ‘Abdillah, Sualat Muhammad b. Us-man b. Abi Syaibah li Ali b. Al-Madini Fi Al-Jarh Wa Al-Ta’dil, Maktabat Al-Ma’arif, Riyad, Cetakan I, 1984 M/1404 H.

__________, Sualat Al-Hakim Al-Naisaburi li Al-Daruqutni fi Al-Jarh wa Al-Ta’dil, Maktabat Al-Ma’arif, Riyad, 1984 M/1404 H.

Ibn ‘Abd al-Wahhab, Muhammad, Mukhtashar Sirah Rasul SAW, Dar Al-Arabiyyah, Bairut, tt.

Ibn Abi Syaibah, Abu Bakar, Musannaf Ibn Abi Syaibah, Dar Al-Fikr, Bai-rut, Cetakan I, 1994.

Ibn Al-Asir, Al-Imam Al-Mubarak b. Muhammmad al-Jaziri, Jami’ Al-Usul fi Ahadis Al-Rasul, Dar Al-Fikr, Bairut, 1988 M/1403 H., Jld. I.h.30

Ibn Hajar, Syibah Al-Din Ahmad b. ‘Ali Al-Asqalani, Tahzib Al-Tahzib, Dar Al-Fikr, Bairut, Empat Belas Jilid, 1984 M/1404 H.

__________, Taqrib Al-Tahzib, Dar Al-Ma’arifsh, Bairut, Dua Jilid, tt.

__________, Lisan Al-Mizan, Dar Al-Fikr, tkp, Tujuh Jilid, tt.

Ibn Hibban, Muhammad Abu Hattim, Al-Siqat, Dar Al-Fikr, Haydera-bad, Sepuluh jilid, Cetakan I, 1973 M/1393 H.

Ibn Kasir, Abu Al-Fida Isma’il, Tafsir Ibn Kasir, Dar Al-Fikr, Bairut, 19-84 M/1404 H.

__________, Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, tt.

Ibn Khuzaimah, Abu Bakar Muhammad b. Ishaq Al-Sulami Al-Naisa-buri, Sahaih Ibn Khuzaimah, Empat Juz, Al-Maktabah Al-Islami, tkp, tth.

Ibn Majah, Abu Abdillah Muhammad  b. Yazid Al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Dar Al-Fikr, Bairut, diedit oleh Muhammad Fuad ‘Abd Al-Baqi, Dua Jilid, tt.

Ibn Sa’ad Muhammad, Al-Tabaqat Al-Kubra, Sembilan Jilid, Dar Al-Fikr, Bairut, 1985 M/1405 H.

Ibn Syahin, Abu Hafs ‘Umar b. Ahmad  b. Usman, Tarikh Asma Al-Si-qat, diedit oleh ‘Abd Al-Mu’ti Qal’aji, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bei-rut, 1986 M/1406 H.

Ibn Taimiyah, Taqiy Al-Din Ahmad b Abd Al-Halim Al-Harrani, Min-haj Al-Sunnah, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, Dua jilid, tt.

__________, Huquq Ali Al-Bait, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, di-edit oleh ‘Abd Al-Qadir Ahmad ‘Ata, 1987.

__________, Su’al fi Yazid b. Mu’awiyah, Dar Al-Kitab Al-Jadid, Bairut, 1976.

__________, Al-Tafsir Al-Kabir, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, Tu-juh Jilid, tt.

Ibrahim Unais et. al., Al-Mu’jam Al-Wasit, tnp, Al-Qahirah, 1972.

Al-Ijli, Ahmad b. Abdillah b. Salih Abu Hasan, Tarikh Al-Siqat, diedit oleh ‘Abd Al-Mu’ti Qal’aji, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, Ce-takan I, 1984.

Ilyas, Yunahar, dan M Mas’udi (editor), Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis,LPPI Universitas Muhammadiah Yogyakarta, Yogyakarta, Cetakan I, 1996.

Ismail, Syuhudi, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, Bulan Bintang,Jakarta, Ce-takan I, 1998.

__________, Pengantar Ilmu Hadis,Angkasa, Bandung, 1991.

__________, Hadis Nabi Yang Tekstual Kontekstual, Bulan Bintang, Ja-karta, 1994.

Itr, Nur Al-Din, Manhaj Al-Naqd fi Ulum Al-Hadis, Dar Al-Fikr, Bai-rut,tt.

Al-Jauzajani, Abu Ishaq Ibrahim b. Ya’qub, Ahwal Al-Rijal, diedit oleh Al-Sayyid Subhi Al-Badari Al-Samarrai, Muassasah Al-Risaalah, Bairut, 1403 H.

Al-Jawabi, Muhammad Tahir, Juhud Al-Muhaddisin fi Naqd Matn Hadis Al-Nabawi Al-Syarif, Muassasat ‘Abd Al-Karim b. ‘Abdillah, Tunis, 1986 M/1406 H,

Al-Kandahlawi, Muhammad Zakariya, Awjaz Al-Masalik ila Muwatta ‘Malik, Dar Al-Fikr, Bairut, Dua Puluh (?) Jilid, tt.

Kartodirjo, Sartono (Ed.), Papers of the Fourth Indonesian-Duch History Con-ference, Gajahmada Unuversity Press, Yogyakarta 1986.

Kennedy, Hugh, The Prophet and the Age of the Caliphates, Longman, New York, 1986.

Al-Kattani, Muhammad b Ja’far, Abu Abdillah, Nazm Al-Muntanatsir min Al-Hadis Al-Mutawatir, Dar Al-Kutub Al-Salafiyah, Mesir, tt.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj, Al-Mukhtasar Al-Wajiz fi Ulum Al-Hadis, Muassasat, Al-Risalah, Bairut, 1991 M/1411 H.

__________, Usul Al-Hadis, Dar Al-Fikr, Bairut, 1989 M/1401 H.

__________, Al-Sunnah Qabla Tadwin, Dar Al-Fikr, Bairut, Cetakan V, 1990 M/1410 H.

Madjid, Nurcholish., Islam Agama Kemanusiaan, Paramadina, Jakarta, 1997.

___________, Islam Agama Peradaban, Paramadina, Jakarta, 1998.

Al-Manami, Muhammad ‘Abd Al-Ra’uf, Faid Al-Qadir, Dar Al-Ma’rifah, Bairut, 1972 M/1392 H.

Al-Mawdudi, Abu Al-A’la, Khilafah dan Kerajaan, diterjemahkan dari ba-hasa Arab ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Al-Baqir, Mizan, Bandung, 1994.

Al-Mizzi, Jamal Al-Din Abu Hajjaj Yusuf, Tahzib Al-Kamal, Dar Al-Fikr, Bairut, diedit oleh Suhail Zakar, et. al., Dua Puluh Empat Jilid, 1994 M/1414 H.

Momen, Moojan, An Introduction to Shi’i Islam, Yale Unuversity Press, London 1985.

Al-Mubarakfuri, Muhammad b. ‘Abd Al-Rahman b. ‘Abd Al-Rahim, Tuhfat Al-Ahwazi, Dar Al-Fikr, Bairut, Sepuluh Jilid, tt.

Al-Mufid, Fakhr Al-Syi’ah Al-Syaykh, Al-Amali, Al-Muassasat Al-Nasyr Al-Islami, Qum, 1412 H.

Mulakhatir, Khalil Ibrahim, Makanat Al-Sahihayn, Al-Matba’at Al-‘Arabiyat Al-Hadisah, Al-Qahirah, 1404 H.

Al-Musawi, Syaraf Al-Din, Al-Murajaat,Islamian Grand Library, tkp, tt.

Muthahhari, Murtadha, Man And Universe diterjemahkan ke dalam baha-sa Indonesia oleh Satrio Pinandito (Imamah dan Kjilafah), Firdaus, Jakarta, 1991.

Al-Nabhani, Yusuf b. Isma’il Al-Syaraf Al-Muabbad li Muhammad, Mus-tafa Al-Bab Al-Halabi, Mesir, tt.

Al-Nadim, Abu Al-Faraj Muhammad b. Abi Ya’qub Ishaq, Al-Fihrist, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, Cetakan I, 1996 M/1416 H.

Al-Naisaburi, Abu Al-Husain Muslim b. Hajaj  b. Muslim Al-Qusyairi, Al-Jami’ Al-Shaih, Dar Al-Fikr, Bairut, Edisi Musyakkal, Empat Jilid, tt.

Al-Nasa’i Abu Abd Ar-Rahman Syu’aib b. ‘Ali b. Bahr b. Sinan, Al-Du-’afa wa Al-Matrukin, Dar Al-Fikr, Bairur, tt.

Nasution, Harun, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1986.

__________, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, UI-Press, Jakarta, Ce-takan VI, 1986.

__________, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

Al-Nawawi, Abu Zakariya, Muhy Al-Din Yahya b. Syaraf Al-Syafi’i, Sya-rah Muslim li Al-Nawawi, Dar Al-Fikr, Bairut, Juz VII dan XV,tt.

Nuruddin, Amiur, Ijtihad Umar b. Khattab: Studi Tentang Perubahan Hukum Dalam Islam (tesis program S2 IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta yang dibukukan, selanjutnya disebut dengan Ijtihad Umar), Raja-wali Press, Jakarta, 1991.

Petersen, Earling Ladewig, ‘Ali and Mu’awiya in Early Arabic Tradition Studies on the Genesis and Growth of Islamic Historical Writing until the End of the Ninth Century, Scandinavian University Books, Mun-ksgaard, tth.

Al-Qalyubi, ‘Abdu Rabbih b. Sulaiman b. Muhammad, Jami’ Al-Ma’qul wa Al-Manqul Syarh Jami’ Al-Usul li Ahadis Al-Rasul saw, Mesir: Mat-ba’at Al-Maqahib, tth..

Al-Qasimi, Muhammad Jamal Al-Din, Qawa’id Al-Tahdis, Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, tkp, tth.

Al-Qazwini, Al-Khalil b. ‘Abdillah b. Al-Khalil Al-Khalili, Al-Irsyad fi Ma’rifat ‘Ulama’ Al-Hadis, Dar Al-Fikr, Bairut, 1993 M/1414 H.

Rahman, Fazlur, Islam,University  of Chicago, Edisi II, 1979.

Al-Ramahurmuzi, Al-Hasan b. ‘Abd Al-Rahman, Al-Muhaddis Al-Fasil, Dar Al-Fikr, Bairut, Cetakan III, 1984 M/1404 H.

Rasyid, Daud, Islam dalam Berbagai Dimensi, Gema Insani Press, Jakarta, Cetakan I, 1998 M/1418 H.

Al-Razi, Abu Muhammad ‘Abd Al-Rahman b. Abi Hatim Muhammad b. Idris b. Al-Munzir Al-Tamimi Al-Hanzali, Al-Jarh wa Al-Ta’dil, Dar Al-Fikr, Hayderabad, Sembilan Jilild, tt.

Al-Razi, Al-Syaikh Al-Imam Muhammad b.Abi Bakar b. ‘Abd Al-Qadir, Mukhtar Al-Sihah, Maktabat Lubnan, Bairut, 1980.

Reid, Alferd J.,dan D. Marr (Ed), Perceptions Of The Past In Southeast Asia,Heinemann-Asian Studies Association of Australia Publication Series, Singapur, 1979.

Rida, Muhammad, Muhammad SAW, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, 1975.

Rosenthal, Franz, A History of Muslim Historiography, E.J. Brill, Leiden, Edisi II, 1968.

Al-Saduq, Al-Syaikh Kamal Al-Din wa Tamam Al-Ni’mah, Al-Muassasat Al-Nasyr Al-Islami, Qum. Dua Juz, 1390 H.

Al-Salih, Subhi, ‘Ulum Al-Hadis wa Mustalahuh, Dar Al-‘Ilm li Al-Mala-yin, tkp, 1988.

Al-Saliman, ‘Abd Al-‘Aziz, Al-Kawasyif Al-Jaliyyah ‘an Ma’ani Al-Wasi-tiyyah,Ri’asat Idarat Al-Buhus Al-Ilmiyyah wa Al-Da’wah wa Al-Irsyad , Saudi Arabia, Cetakan XI, 1982 M/1402 H.

Shaban, M.A., Islamic History,CambridgeUniversity Press, Cambridge, 1994.

Al-Shiddieqi, M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Bulan Bintang, Jakarta, 1987.

Al-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman b. Al-Asy’as Al-Azdi, Sunan Abi Da-wud, Dar Al-Fikr, Bairut, Dua Jilid, tt.

Soetari, Endang, Ilmu Hadis, Amal Bakti Press, Bandung, Cet. I, 1994.

Subhani, Ja’far, Ar-Risalah,diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Hasyim dan Meth Kieraha, Lentera, Jakarta, 1996.

Suryanagara, Ahmad Mansur, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1995.

Al-Suyuti, Jalal Al-Din ‘Abd Al-Rahman, Ihya’ Al-Mayyit bi Fadail Ahl Al-Bait, Dar Al-Jail, Bairut, diedit oleh Mustafa ‘Abd Al-Qadir ‘Ata’, 1980.

__________, Sunan Al-Nasai bi Syarh Al-Hafz Jala Al-Din Al-Suyuti wa Hasyiyat Al-Imam Al-Sindi, Dar Al-Fikr, Bairut, Empat Jilid, 1930.

__________, Tanwir Al-Hawalik Syarh ‘ala Muwatta ‘Malik, Dua Juz, Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, Indonesia, tt.

__________, Asbab Wurud Al-Hadis aw Al-Luma’fi Asbab Al-Hadis, di-tahqiq oleh Yahya Isma’il, (Bairut: Dar Al-Wafa’: 1998), Cet.Ke-1.

__________, Tabaqat Al-Huffad,Bairut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Ce-takan II, 1994 M/1414 H.

__________, Miftah Al-Jannah fi Al-Ihtijaj bi Al-Sunnah, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Bairut, Cetakan I, 1987 M/1407 H.

Al-Syahrastani, Abu Al-Fattah Muhammad ‘Abd Al-Karim, Al-Milal wa Al-Nihal, Dar Al-Fikr, Bairut,tt.

Al-Syaybani, Ahmab b. Muhammad b. Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad b. Hanbal, Dar Al-Fikr, Bairut, Enam Jilid, tt.

__________, Fadail Al-Sahabah,diedit oleh Wasi Allah b. Muhammad Ahmad, Al-Jami’ah Ummu Al-Qura, Mekkah, Dua Jilid, 1983 M/1403 H.

Al-Syaybani, ‘Abd Al-Rahman b. Ali, Tasyir Al-Wusul ila Jami Al-Usul min Hadis Al-Rasul, Maktabat Muastafa Al-Bab Al-Halabi, Al-Qahirah, tt),

Syakir, Ahmad Muhammad, Al-Ba’its Al-Hisis, Dar Al-Ilm, Bairut, tt. Ta-batba’I Sayyid Muhammad Husain, She‘its Islam,diterjemahkan dari dalam bahasa Persia ke dalam bahasa Inggris oleh sayyid Hu-sein Nasr, Shia Institute of Pakistan, tt.

Syed Mahmudunnasir, Islam its Concept & History, Kitab Bhavan, New Delhi, tt.

Al-Tabarani, Abu Al-Qasim Sulayman b. Ahmad b. Ayyub Al-Khummi, Al-Mu’jam Al-Saghir li Al-Tabarani, Dar Al-Fikr, Dua Juz,tt.

__________, Al-Mu’jam Al-Kabir li Al-Tabrani, diedit oleh Humaidi Abd Al-Majid Al-Salafi, Matba’at Al-Zahra Al-Hadisiyah, Mawsul, Dua Puluh Delapan Juz, 1984.

Al-Tabari, Abu Ja’far Muhammad b. Jarir, Tarikh Al-Usman wa Al-Mulk, Dar Al-Fikr, Bairut, Juz III, tt.

Al-Tahhan, Mahmud, Usul Al-Takhrij wa Dirasat Al-Asanid, Dar Al-Kutb Al-Salafiyah, Al-Qahirah, 1982.

Al-Tirmizi, Abu Isa Muhammad b. Isa b. Saurah, Sunan Al-Tirmizi, Dar, Al-Fikr, Bairut, Lima Jilid, 1983 M/1403 H.

Umar, Mu’in, Historiografi Islam,Rajawali Press, Jakarta, 1998.

‘Usman, Hasan, Manhaj Al-Bahath Al-Tarikhi, diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia oleh tim Depertemen Agama RI, Depertemen Agama RI, Jakarta, 1986.

‘Usman ‘Abd Al-Rahman Muhammad, Al-Taqyid wa Al-Idah Syarh Mu-qaddimat Ibn Shalah, Dar Al-Fikr, 1981.

Al-Usmani, Zafra Ahmad, Qawa’id fi ‘Ulum Al-Hadis, diedit oleh Abd Al-Fattah Abu Ghudah, Maktabat Al-Bu’ah Al-Islamiah, Bairut, 1984 M/1404 H.

Al-Wastani, Muhammad b. Khalifah, Ikmal Ikmal Al-Mu’allim, yang di-cetak bersama Muhammad b. Muhammad b. Yusuf Al-Sanusi, Mukammil Ikmal Al-Ikmal, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Bairut, Sem-bilan Jilid, 1994 M/1414 H.

Watt, W. Montgomery, Muhammad Prophet and Statesman, Oxford Uni-versity Press, London, 1969.

Wensink, A.J., et. al. Al-Mu’jam Al-Mufahrasyy li Alfaz Al-Hadis, E.J. Brill, Leiden, Tujuh Jilid, 1936.

Yamani, Muhammad  ‘Abduh, ‘Alimu Auladakum Mahabata Ali Bait Al-Nabi, di terjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia oleh Zaid Husein Al-Hamid (Ajarilah Anak-Anak Mencintai Ke-luarga Nabi), Mutiara Ilmu, Surabaya, 1994.

Al-Za’bi, Mahmud, Al-Bayyinat fi Al-Rad ala Abatil Al-Murja’at, diterje-mahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia (Sunni yang Sunni), Pustaka, Bandung, 1989.

Al-Zahabi, Muhammad b. Ahmad b. Usman Abu ‘Abdillah, Mizan Al-I’tidal,Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, tkp,tt.

__________, Siyar A’lam Al-Nubala’, Muassasat Ar-Risalah, Bairut, Dua Puluh Lima Juz, 1990 M/1410 H.

__________, Tazkirat Al-Huffaz, tkp, Dar Ihya’ Al-Turas Al-‘Arabi, Li-ma Belas Juz beserta Zail, tt.

__________, Al-Mu’in fi Tabaqat Al-Muhaddisin, Dar Al-Sahwah, tkp, Ce-takan I, 1987 M/1407 H.

__________, Al-Mughni fi Al-Du’afa’, Dar Al-Ma’arif, Suriah, Dua Jilid, 1971 M/1391 M.

Al-Zurqani, Muhammad, Syarh Al-Zarqani ‘ala Muawatta’ Malik, Empat Jilid, (Bairut: Dar Al-Fikr, tt), Jilid. IV.

Iklan

Kategori: Artik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kisah ta'aruf kami

6 Metode Komunikasi Berbasis Al-Quran: Solusi Dakwah Qoulan yang Inspiratif dan Inovatif

KEBAHAGIAAN SEJATI