The Power Of Love 212
Kekuatan cinta keluarga dibalik
aksi 212
Review film The Power Of Love 212
Al hamdulillah film yang terinspirasi dari aksi 212 hadir
juga, temanya tentang keluarga dengan pesan cinta, perdamaian dan kebenaran.
Menambah produk perfilman Indonesia khususnya film Islami. Apakah film ini akan
mampu menarik jutaan penonton? Membuktikan kehadiran 7 juta alumninya di layar
studio? Tentu itu subjektif karena dunia film fiksi berbeda dengan dunia
nyata/fakta sejarah, dan mungkin tidak semua alumni 212 senang menonton film di
bioskop. Atau sebaliknya market penonton bias lebih dari 7 juta, karena
menyedot perhatian di Indonesia sampai dunia. Tentu itu tantangan, apakah film
ini akan jadi fenomenal sebagaimana aksinya yang terus jadi bahan perbincangan.
Kita nantikan!
Senang sekali saya bisa menonton film 212 dihari pertama
tayang, film yang dinantikan oleh para
pecinta Al Quran, ditunggu pejuang kebhinekaan, perindu kebenaran dan
keadilan, film tentang cinta keluarga dan agama, tentang anti penistaan agama,
film yang inspiratif dari aksi terbesar
di dunia, demo super damai berjudul 212 yang tiada duanya. Jika sukses, Film
serupa bertema 212 pasti akan bermunculan, para penonton pasti mengharapkan
film-film dengan tema 212 yang berbeda, untuk the power of love 212. Ini
reveiwnya. Mantap!
Saat 212 saya ada dibarisan depan dekat tim polisi
asmaulhusna. Menyaksikan kekuatan cinta hadir disana, kekuatan doa mampu
menggerakan awan yang meneduhkan bahkan hujan rintik yang menyenangkan. Adegan
di film saat berjamaah sholat jumat disertai hujan, membuat film ini membuat
kita merinding, bergetar, dan merasakan kekuatan cinta yang terdalam. Khusyu. Cuplikan
aslinya ditampilkan di film, terutama saat ribuan pejalan kaki dari ciamis ke
Jakarta. Bagaimana seorang anak yang memaksa bapanya jangan ikut, konyol
alasannya, lalu di akhir film sholat bareng di MONAS, membantu bapanya yang
kelelahan. Film ini banyak pesannya, sesuai tagline cinta, kebenaran, dan
kedamaian itulah yang ingin disampaikan film the power of love 212. Maka
segeralah tonton filmnya!
Film ini bertemakan keluarga, konflik antara seorang bapa
yang Kiayi dengan anaknya yang lulusan harvard university namun egonya tinggi yang
merasa terpenjara saat berada di pesantren. Anaknya bernama Rahmat itu
berprofesi sebagai Jurnalis di majalah republik, tidak suka dengan lingkungan agama,
tulisannya tentang agama sering negatif. Sehingga banyak musuh, Agama
dianggapnya hanya untuk topeng kekuasaan, putus asa, padahal rahmat dari
keluarga pesantren dan kiayi. Ada cinta yang hilang dimasa lalunya, ada konflik
batin dalam jiwanya dan film ini mengungkapkannya.
Diawali adegan judul majalahnya yang menyudutkan pemuka
agama/ulama, agama hanya untuk topeng kekuasaan di headline yang ditulis
rahmat. setelah aksi 411 / aksi jilid ke 1, sebelum aksi jilid 2 atau 212 film
ini mengalir dengan banyak peristiwa tak terduga, contohnya kematian ibunya
setelah 10 tahun rahmat tak pernah pulang ke Ciamis. Banyak dialog dan
peristiwa yang diambil dengan latar Ciamis, sebagai tempat masa kecil Rahmat
dan keluarga yang ditinggalnya. Rahmat hanya memiliki seorang teman setia, yang
setia menemani pekerjaannya, saat kembali ke ciamis senang bertemu dengan teman
perempuan masa kecilnya, hasna namanya. Sedangkan saudara hasna seorang aktifis
Rohis, taat ibadah, dan marah saat agamanya dihinakan. Peran ini sangat baik
diperankan hamas/abrar, sebagai koordinator lapangan saat aksi jalan kaki dari
ciamis menuju jakarta. Diskusi rahmat dan abrar sering panas, hampir terjadi
keributan, mirip perdebatan di dunia medsos. Hasna menengahinya.
Ada saat segmen Kiayi makan bakso di warung keturunan Cina, bukti
aksi itu bukan aksi anti ras tertentu, bukan aksi kebencian, justru aksi
keragaman, aksi cinta damai dan bhineka tunggal ika yang diyakininya benar.
penonton pasti menunggu seperti apa sih ending cerita Film 212 itu?
Pesan hikmahnya, film
ini tidak menyinggung sesuatu yang sensitif, isinya tidak membahas dahsyatnya
Al Maidah 51 yang viral di akhir 2016. Isinya tidak menyebut tokoh partai,
tokoh agama, habib FPI dsb. Atau pun makar politik yang dituduhkan oleh Rahmat.
Isi film ini tentang kekuatan cinta dan pesan khususnya kepada keluarga. Karena
film ini terinspirasi dari sejarah, fakta yang baru terjadi. maka cerita film
ini sangat hati-hati namun memberi pesan yang berarti. Tentang keluarga. Luar
biasa!
Pesan tersiratnya adalah renungan untuk bangsa, Muslim sebagai
mayoritas yang harus jadi teladan, bermanfaat untuk umat, Cinta kepada
keluarga, bangsa dan Agama tak bisa dipisahkan, semuanya satu kesatuan. Pesan
bhineka tunggal ika yang Islam tegas mengajarkan dan adegan fakta pernikahan di
212 menuju katedral ditampilkan di film tersebut, di film ini ada juga peran
yang memang asli non muslim sebagai jurnalisnya, intinya semuanya merasakan
kekuatan cinta, kedamaian dan kebenaran.
Segmen berjalan kaki dari ciamis
ke Jakarta, itu yang dibanggakan dari film ini, menguras energi kita yang
menonton. Bukti, cintalah yang menggerakan kaki mereka untuk melangkah, itu
bukan omong kosong atau konyol seperti diucapkan rahmat. Para santri dan Kiayi sampai
melepuh sandal mereka, basah celana mereka, adegan itu cukup mewakili luapan
perasaan jutaan orang yang hadir di Monas, 200 juta lebih rakyat deg degan, menanti apa
yang akan terjadi di Monas? Aksi Cintakah atau kebencian? Peristiwa kerusuhan
1998 banyak diramalkan para politikus. Semua gak terjadi, sedikitpun makar gak
ada. Yang ada justru kedamaian dan keindahan. Artis Irfan hakim dkk hadir juga
di film, tumpah ruah, bertakbir, meluapkan keyakinannya. AllahuAkbar !
AllahuAkbar
Akhirnya rahmat tersadarkan, rahmat kecil pernah membakar
isi masjid, usia 16 tahun bahkan membuat 2 adiknya meninggal dunia karena
kecelakaan. Rahmat mengakui kesalahanya, beliau tidak ingin menderita lagi
dengan kehilangan bapanya, hati yang keras bisa lembut dengan kekuatan cinta,
selama ini rahmat salah dan memiliki persepsi yang negatif tentang agamanya,
tentang keluarganya, tentang cinta pada Tuhan, ragu akan keyakinan agamanya,
jarang melaksanakn solat. Rahmat memeluk bapanya setelah lama meninggalkannya. Rahmat
menjadi lulusan Harvard berprestasi tentu atas usaha keluarganya, doa, perjuangan
abah yang mencintainya. Dan di akhir cerita, Rahmat akan meneruskan perjuangan
abahnya, bersama sama akan berjuang walau dengan cara lain. menyebarkan cinta,
kedamaian dan kebenaran. Headline di
majalah republik pun judul majalahnya menjadi indah,
“ Aksi 212 wajah Islam yang santun dan ramah “, Sekian.
Abu jaisyi_Heri Mahbub N
#Review212
#Putihkanbioskop

Komentar
Posting Komentar