Waqof Ibtida
PERSOALAN WAQF DAN IBTIDA SERTA MUSHAF TEMATIS BERWARNA
👉🏻 Tartil sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnul Jazariy, dari Al-Imam 'Ali bin Abi Thalib, artinya mentajwidkan huruf dan memahami persoalan waqf.
👉🏻 Masyarakat sudah mulai sadad tajwid dan memahami urgensinya dalam membaca Alquran. Namun, masih banyak yang belum memahami persoalan waqf (berhenti membaca) dan ibtida (memulai bacaan).
👉🏻 Padahal, memahami persoalan waqf dan ibtida adalab setengah tartil.
👉🏻 Di antara kaidah waqaf dan ibtida yang penting untuk dipahami adalah:
✅ Waqf (berhenti sementara) di akhir ayat adalah sunnah, dan memulai dari awal ayat adalah sunnah. Maka, bukanlah sunnah apabila berhenti di awal ayat setelah melewati akhir ayat sebelumnya. Begitu pula, bukan sebuah sunnah apabila telah berhenti di akhir ayat, kemudian memulainya dari ujung ayat. Karena yang sunnah adalah langsung memulai dari awal ayat berikutnya.
✅ Adapun memulai bacaan (ibtida haqiqi) mesti dari awal tema dan mengakhirinya (qatha) di akhir tema.
✅ Patokan sekali duduk bacaan (satu maqra) bukanlah halaman, rubu', atau hizb, melainkan tema.
✅ Dalam sebagian mushaf, setiap satu tema besar diberi tanda 'ain (ع).
✅ Setiap akhir surat selalu akhir tema. Maka, sebaik-baik sekali duduk baca (satu maqra) adalah menuntaskan satu surat).
✅ Namun, tidak semua mushaf memberikan tanda baca 'Ain, sehingga kita dituntut untuk belajar memahami Alquran dengan mempelajari bahasa Arab.
✅ Satu tema besar, kadang terlalu panjang, sedangkan tidak selalunya waktu yang kita miliki untuk membaca Alquran cukup mencapai satu tema. Maka, kita tidak boleh berhenti pada ayat yang masih memiliki hubungan makna dengan ayat setelahnya, apalagi masih memiliki hubungan lafazh/ i'rab.
👉🏻 Untuk menyiasatinya, kita bisa berhenti pada tema-tema kecil yang dapat diketahui dari tafsir ayat yang bersangkutan.
👉🏻 Apabila kita belum memahami tafsir ataupun bahasa Arab, maka kita bisa menggunakan mushaf tematis berikut, yang setiap tema dibedakan dengan warna background.
Berikut link download mushaf tematis:
https://archive.org/download/Quran_Tafseel-Mawdo/Quran_Tafseel-Mawdo.pdf
👉🏻 Adapun dalam shalat, maka para Ulama berbeda pendapat, apakah sekali duduk itu terhitung setiap rakaat, atau terhitung dalam sekali shalat.
👉🏻 Menurut kebanyakan Ulama, sekali duduk terhitung dalam sekali shalat, karenanya pembacaan isti'adzah atau ta'awwudz hanya sekali pada awal rakaat sebelum membaca basmalah.
✅ Siapa saja yang mengikuti pendapat ini, maka ia boleh ruku' walaupun ayat yang dibaca tidak mencapai akhir tema besar (biasanya diberi tanda 'Ain), dengan syarat, sudah tidak memiliki hubungan i'rab/ lafazh dengan ayat berikutnya. Atau berhenti pada tema kecil di rakaat pertama, dan melanjutkan sampai akhir tema besar (tanda 'Ain) di rakaat kedua.
👉🏻 Adapun menurut madzhab Asy-Syafi'i, sekali baca terhitung setiap rakaat. Karenanya, isti'adzah dibaca setiap awal rakaat sebelum membaca Alfatihah.
✅ Siapa saja yang mengikuti pendapat ini, maka tidak boleh ruku' kecuali ayat yang dibaca telah mencapai akhir tema besar (tanda Ain).
👉🏻 Persoalan waqf dan ibtida merupakan persoalan ijtihadi yang erat kaitannya dengan tafsir. Maka, jangan heran atau kaget bila tanda baca waqf kadang berbeda untuk setiap mushaf. Karena tanda baca hanya bersifat membantu tidak mutlak.
👉🏻 Adapun bagi yang telah memahami tafsir, maka ia tidak akan membutuhkan tanda-tanda waqf lagi, karena ia bisa memahami kapan dan di mana seharusnya berhenti serta kapan dan di mana seharusnya memulai.
👉🏻 Dalam persoalan waqf dan ibtida, status hukumnya bukan ditentukan oleh sekadar tanda bacanya saja, melainkan tergantung makna yang kita berhenti padanya atau memulai darinya.
👉🏻 Apabila maknanya baik, maka boleh berhenti atau memulai di sana. Apabila maknanya buruk, maka tidak boleh berhenti atau memulai di sana.
Wallaahu a'lam.
Di tengah deras Depok, 22 Januari 2019
Laili Al-Fadhli
Semoga Allāh mengampuninya dan juga keluarganya. Āmīn.
Komentar
Posting Komentar