jumatan ke4 masa ppkm lev4

*Jumatan ke 4*
*Ghost Protokol*  
•Heri Mahbub~

Alhamdulillah, Kembali ke kisah jumatan, jadi imam dan khotib, menyampaikan pesan2 langit, tentang protokol Taqwa dan keimanan.
Jumat ke 3 dan Iedul adha di masa ppkm saya gak kemana-mana, ada jadwal dicancel, alhamdulillah bahagia bisa dirumah aja. 
Kemarin Jumatan ke 4 masa ppkm level 4 awalnya mau cancel juga, mesjid ini sudah sy kenal, jadi niatkan hadir, tentu tetap bermasker saat khutbah dan imam. 

Saya beli minuman segar diwarung dekat mesjid, ibu penjaga warung nanya,
 "mau ke mesjid pak? emang ada jumatan? "
iya bu, jamaahnya terbatas hanya internal, santri2 dan jamaah dekat saja,.
ibu itu nyeletuk, " iya ya kok banyak dilarang-larang, lieur jadina".
" Sholat Iedul Adha juga gak ada kemarin"
 "ya jaga2 aja bu, mencegah, menjauhi penyakit menular di mesjid"
saya bilang, Hatur Nuhun bu sambil double masker tetap dijaga menutup hidung. 

Berusaha tetap ditengah, wasathiyah, proporsional, gak mau terpengaruh siapa2 kecuali ilmu yang ada, mengkaji dari otoritas keilmuan. tentu ilmu saya minim dan terbatas, jadi taat pada Ulama/MUI, juga ikut nasihat kedokteran yang resmi. juga taat ke Bayan Qiyadah/pimpinan, itu yang menguatkan. jadi  sebenarnya ini mengedukasi diri sendiri. menulis juga untuk menghilangkan berbagai emosi, era disrupsi informasi, usaha supaya tetap di jalurnya, yang lurus, tenang. jaga protokol kebahagiaan hehe

Mumet memang baca pro kontra, kontroversi, bahkan khilafiyah Ulama, pendapat yang begitu tajam menyikapi pandemi ini. kenapa bisa begini ya? bidang kerjaan saya memang dakwah dan umat, spesialisasi di Al Quran.

Supaya terang dan faham, sejak awal psbb sy simak kajian para Ulama, puluhan sumber baik Channel NU TV, Persis, AQL Tv, UAH Tv, Ulama2 di DSP, juga Ulama yang faham ilmu kesehatan masy. juga Ulama2 di Blok S seperti Ust Basalamah dkk, atau Blok H seperti Channel NgajiSubuh TV, Cinta Quran dll.  berusaha memahami mana hujjah yang konsisten dan lurus, peta pemikirannya, sumbernya, karena bahaya kalau salah memahami ini apalagi terkait dalil Agama, bisa salah memahami bahayanya. ya gak hanya agama, ipoleksosbudhankam, leaders Talk Channel pak Mardani ali sera pun kadang saya ngopi diskusi2 Channelnya. 
 
Ada pendapat tokoh Agama, Ulama, sangat di kenal, katanya:
karena mesjid ini bersih, yang solat wudhu semua, jadi suci, rapih, Virus pun bertasbih di mesjid, gak mungkin menular, sehat dan negatif semua. pasti aman, gak perlu prokes, gak masker, gak jaga jarak, boleh salaman dll.
Lalu beliau menjelaskan dalil2nya berjam-jam, saya ikuti sambil senyum-senyum, sambil kening berkerut...

Beliau guru virtual saya, Ulama yang juga saya termotivasi belajar Quran, ikuti kajian2nya, namun kali ini berbeda pendapat boleh ya, bahkan ingin saya diskusi dengan beliau,
tentang protokol bumi, protokol langit, yang seiring dengan protokol kesehatan lahir dan batin, bukannya mencari ilmu Ghost Protokol? dimana hantunya? Ghost WHO? di film mission imposible mungkin ada. 

karena Ulama harusnya ikut Edukasi ttg Pandemi, Covid19, Vaksin ini itu anjurkan aja, jika Umara bikin kita bingung, pejabat bingung rebutan sumber daya, dan bansos. lalu gimana jika Ulama buat bingung umat, berbeda faham dan beda protokol, padahal intinya sama. ingin sehat lahir batin.

ya apalagi saya yang bodoh, dan awam lebih bingung,  ya jangan sampai dokter/nakes bingung juga, dituduh, suuzon macam2, implikasi Ghost Protokol itu bahaya bagi nakes, Ambulan dilempar, nakes dianiaya, yang gak mau berobat ke RS jadi banyak, ya resiko penyakit makin parah, menyebar kemana-mana.
nakes tugasnya berat, memperhatikan, melayani pasien2, harusnya kita berterima kasih kepada mereka, dg tagar #terimaksihNakes
 
Ya semoga, gak ada korban lagi Ulama2 kita. Allah jaga Ulama, Tokoh2 Umat, Selamat Sehat. Amin 

simpulannya, kita ke mesjid, jumatan yang tetap buka, ya alhamdulillah.
ya Ikuti Protokol bumi dan prokes ketat di mesjid, jika gak mau prokes, ya namanya proghos. Protokol Ghost, seolah gak ada apa2, baik-baik saja, padahal keluarga, teman, nakes banyak yang sakit.
 
tokoh umat yg bilang, di mesjid gak perlu prokes, virus gak kan menular, karena wudhu, Suci bersih rapih, sehat semua, iya itu maknawiyah, ruhiyah, harapan/Ar Roja...protokol langit. pegang itu, tapi Ingat protokol bumi juga. karena kita bukan wali, apalagi bukan Nabi. Nabi2 pun ikhtiar maksimal saat ada musibah, gak apatis, kita manusia biasa, bisa sakit. semua akan mati kapanpun, dimanapun, oleh sebab apapun.

Logika saya yang bodoh, apa Virus C19  itu bisa dilihat CCTV mesjid, jadi akan  tahu Virus mana yang suka nyuri sendal, niat jahat ambil kotak amal, ampli, nyuri Quran baru, atau Virusnya bisa tertangkap termogan DKM? 
pengalaman saya di Itikaf, ada Virus yg pernah nyuri HP saya didalam mesjid, saat di Chas, dulu Itikaf di habiburrahman...saya lupa protokol bumi untuk jaga2, eh itu virusnya pinter, menular di mesjid, tiap tahun katanya sering jamaah terpapar Virus pencurian Hp, canggih bukan hanya hilang sendal, tapi didalam mesjid, tengah malam, Virusnya "soleh" ikut itikaf juga.. heuu. wassalam.

#terimakasihnakes 

-Sabtu, 24 juli, saat antri Vaksin, ±1,5 jam-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kisah ta'aruf kami

6 Metode Komunikasi Berbasis Al-Quran: Solusi Dakwah Qoulan yang Inspiratif dan Inovatif

KEBAHAGIAAN SEJATI