jumatan ppkm bag2
*Takut Kematian dan Jumatan bag2*
|Heri Mahbub|
Sepekan ini saya keluar rumah hanya 3 keperluan saja, salah satunya Sholat jumat durasi hanya ±1 jam.
Saya berfikir positif, berusaha moderat.
Jamaah mesjid banyak dan rapih dimesjid,
Umat lebih siap mati saat di mesjid dibanding mati meninggalkan mesjid/jumatan.
Namun Jumatan kali ini galau, jamaah terlihat risau, gelisah, nampak mata yang bertanya-tanya, kita ada di zaman wabah, pengalaman dan ilmu baru, pemahaman fiqih baru, kondisi yang mungkin 100 tahun sekali belum ada terjadi. TakdirNya kita hidup di zaman ini.
Betul banyak mesjid yg tetap buka, sebagian mesjid apapun yang terjadi jumatan tetap diadakan, jamaah setia, ridho, ikuti prokes, tawakal saja, Taat kepada perintah Allah seperti kondisi normal, namun mesjid yang tidak mengadakan Jumatan pun tentu dalam rangka Taat kepada Allah sesuai zona, fiqh kondisi darurat wabah, tetap Taat dirumahnya masing2. sama, sesuai kesepakatannya.
oke, jauhi perdebatan, saya hanya menulis, terus mencatat apa yang terjadi, menyapa pemikiran umat, mengenal fikrah masyarakat saat ini, saya datang ke mesjid 11:30, masih sepi, bertemu dengan seorang bapa2 yang rumahnya jauh dari mesjid tersebut, pakai motor, lalu kami ngobrol:
B: Assalamualaikum, sehat pak? oh sekarang jumatan disini ya pak?
A: waalaikumsalam, muhun, ngisi khutbah didieu ust?
B: muhun (obrolan masih ditempat parkir motor)
A: Mesjid itu mah Tutup jadi abdi jumat kamari ge kadieu weh, meuni kasieunan pisan.
B: muhun, oh kitu mesjid ini juga sepi ya pak.
A: nanti pas mau adzan biasanya pada datang
B: oh sugan teh teu aya jumatan, mangga pak,
obrolan singkat, menutup mesjid, mengalahnya mesjid2 untuk tidak mengadakan jumatan, memang gak bisa diterima semua jamaah dan dkm. fitnah yang negatif dan positif, ya pasti terjadi. berseliweran di group WA terkait penutupan mesjid dst.
Pesan "kasieunan pisan" dari bapak yang usia ±60 tahun, bisa jadi ada di fikiran kita semua, fikiran umat. bapa tersebut ada benarnya. artinya jangan ada penyakit Wahn, takut kematian. tapi ini temanya penyakit di dunia kesehatan, pandemi. sy coba fahami.
persepsinya maenya sieun maot? sieun terpapar C19, sieun kolaps, sieun aya sidak PPKM? sampai mesjid gak ada jumatan?
Takut itu kepada Azab Allah, takut itu kepada Allah saja, bukan kepada yang lain. mungkin itu maksudnya.
Umat kita ada 2 sikap dengan kutub berbeda, yang panik berlebihan, dan meremehkan. memilih ditengah itu sulit, jadi wasathiyah itu perlu ilmu dan perenungan. ujian fikrah disana.
apalagi sejak awal sieun di Covidkan jadi narasi di masyarakat. salah fikiran, salah sikap, saat terpapar jadi salah penanganan, telat. (Saudara ada contohnya pas malam jumat wafat,)
Saya juga sieun, sieun belum siap pertanyaan di alam kubur, sieun di yaumul makhsar, sieun belum siap dengan hisab, sieun belum ada amalan terbaik, sieun belum jadi muslim yang taat, semoga bukan sieun ke kematiannya karena itu pasti ada jadwal takdirnya, apalagi hubbun Dunya berlebihan. tapi kita sieun ke pasca kematiannya. Perjalanan alam akhiratnya.
*Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim*. (Ali Imran, 3:102
Saya belum siap dan memang sieun itu hanya kepada Allah.
btw, Mari bertaqwa sampai batas kemampuan, selalu taat dan Ingat kepada Allah dimanapun, kondisi apapun.
Bersyukur masih diberi kehidupan, Nikmat bernafas, menghirup Oksigen bebas. Kita Ridho takdirNya, terima kehendakNya, ikhtiar dan tawakal,
semoga Kita sehat semua, kembali normal, pandemi selesai. Amin
-alMahbubi-
Cimahi, 10 juli 21
Komentar
Posting Komentar