Takdir Pandemi !

*Pantaskah mempertanyakan Takdir Allah, menyikapi Pandemi dan Vaksin*
~Heri Mahbub

Bismillah.
(لَا یُسۡـَٔلُ عَمَّا یَفۡعَلُ وَهُمۡ یُسۡـَٔلُونَ)
" Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya" 
QS Al-Anbiya,21: 23

Bismillah.
Ayat itu berkaitan tentang Takdir Manusia, Kehendak Allah yang mutlak, maka ketika terjadi Wabah/Pandemi, itu semua atas pengetahuan Allah, otoritas dan IzinNya, lalu ada 2 sikap ekstrem dalam bersikap bahkan sampai mempertanyakan Takdir Allah? 
dan pertanyaan2 lainnya:

1. Dimana pertolongan Allah? saat pandemi  ini terjadi, kenapa Allah membiarkan Virus C19 menyebar, kenapa dan kenapa. 
hilang adab kepada yang Maha menciptakan dan menguasai Virus. itu makhlukNya. 
justru manusia yang ditanya, apa yang telah manusia kerjakan dengan tangan2nya? apa dosa2 kita sampai Virus merajalela?
penyebab dari musibah itu beragam, apapun sebab dan siapapun tangan jahat yang membuat, baik alami atau di sengaja, disana ada kehendak dan izin Allah, semua ini terjadi. fokuslah mencari rido dan HikmahNya dari pandemik ini. kembali kepada Allah, pandemik ini membuka pintu Taubat KepadaNya. jika sabar, yang wafat mendapat Rahmat Allah, insyaAllah

2. Ada yang mempertanyakan bahwa tiada kehendak Allah, Allah tidak maha Tahu tentang Pandemi, Allah tidak kuasa dan tidak mengetahui tentang Virus C19, ini rekayasa manusia yang mau menguasai dunia, mau mengalahkan Tuhan, Konspirasi C dst.
tidak sadar bisa terjebak menduakan Tuhan, tidak mengakui otoritas Penguasa semesta, melemahkan Tauhid, mengesakan Allah tidak murni lagi, seolah ada kekuatan besar didunia melebihi Allah, ini Plandemik katanya, sebenarnya ada Plan Allah disetiap musibah didunia ini. Wabah jadi azab bagi yang tidak beriman, maka ada Plan Ujian dan Plan Rahmat untuk hambaNya yang beriman. 

Gak pantas yang tidak berilmu, Mempertanyakan kredibilitas Ulama, otoritas lembaga resmi keulamaan, tidak percaya dengan fatwa-fatwa Ulama, dan dari para Ahli kesehatan sesuai bidangnya.

Sikap yang kurang adab, berimplikasi kepada hal-hal lainnya, perhatikan ada banyak keganjilan, kesalahan berfikir, kebingungan sikap, dan ragu-ragu ini pandemik atau bukan? ini wabah thoun bukan? skeptis jadinya.
bahaya dari sikap mempertanyakan sampai lebih "beriman" kepada hoax, 
lebih percaya ke info konspirasi,
lebih membenarkan info dari sumber gak jelas. mari kita edukasi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Maka mari kita mencari solusi sebelum semuanya terlambat, kita introspeksi, muhasabah hati dan fikiran, bagaimana keluar dari pandemik ini.
Ruhiyah maknawiyah kita dimasa pandemi terkait dengan pemahaman, Keilmuan, dan pemikirannya, apa informasi yg masuk kedalam memori kita. 

" .....Katakanlah (Muhammad), “Kemukakanlah alasan-alasanmu! (Al-Qur'an) ini adalah peringatan bagi orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang sebelumku.” Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebenaran), karena itu mereka berpaling."
(Al Anbiya : 23)

Ayat2 ayat berikut ini semoga jadi pencerahan untuk memperbaiki ikhtiar maksimal, di Vaksin. bertanya ke ahlinya, otoritas keilmuan.

Qs. Al anbiya, 7. 
Bahwa yang dimaksud dengan ahli zikri adalah para ulama yang sangat mengerti isi Al-Quran dan hukum2 Islam, namun jika dengan kaidah, maka dokter lah ahli Zikri dalam kondisi ini, dokter yang faham, 
 " *Ibrah diambil dari keumuman lafaz bukan dari kekhususan sabab* "

Senada dengan itu, diriwayatkan bahwa ketika ayat ini diturunkan, Ali bin Thalib r.a berkata, "Kami adalah ahluz-zikri."

1. Ayat ini menjadi dasar atas kewajiban setiap muslim untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak atau belum diketahuinya. Maksudnya, bertanya dalam masalah hukum-hukum Allah SWT yang telah diturunkan lewat kitab suci dan rasul-Nya.

Yang dimaksud dengan ahluz-zikri tidak lain adalah para ulama yang memiliki derajat kefaqihan atas nash-nash syar'i.

2. Ayat ini juga menjadi dalil atas tidak wajibnya seseorang untuk ikut hanya pada satu ulama saja, juga harus tahu kapasitas keilmuannya. Setiap orang boleh saja bertanya kepada siapa saja yang masih bisa digapainya, ahli dibidangnya asalkan orang itu memiliki kriteria sebagai faqih (orang yang memahami maksud dan makna dari tiap perintah Allah)

Ayat2 untuk Bersikap selanjutnya;
Al Baqarah: 216, Kebaikan dan hikmah
At Taubah: 72,  Keridhoan Allah
Al Baqarah: 155, Ujian keSabaran
Al Baqarah: 172, Halal Thoyyib ,berSyukur
Panduan Sunnah Nabi Saw.
Wallahualam.

Kamis, 9 Juli 2021 
(disampaikan di SeON Indonesia )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kisah ta'aruf kami

6 Metode Komunikasi Berbasis Al-Quran: Solusi Dakwah Qoulan yang Inspiratif dan Inovatif

KEBAHAGIAAN SEJATI